“Bu dan Kak, di awal ajaran baru ini aku harus membayar uang ujian praktek. Sebab kalau tidak dibayar, maka aku sudah pasti tidak akan bisa mengikuti ujian akhir nanti,” ujar Ejha dengan lirih.
“Masalah baru datang lagi. Aduh Tuhan! Mengapa kesusahan bertubi-tubi menimpah kami?” keluh Bu Kandida dan tak lagi makan. Ia tertunduk dan diam seribu bahasa. Air matanya tiba-tiba mengalir deras dari pipinya yang sudah keriput itu.
“Dik, batas pembayarannya kapan?” tanya Jeka.
“Mulai Senin depan ketika tahun ajaran baru dibuka, Kak.”
“Seminggu lagi ni?”
“Benar, Kak.”
Jeka menarik nafas Panjang. Tertunduk pula. Rasanya ia ingin menangis dan berteriak sekuat-kuatnya lantaran beban utang kos yang belum dilunasi dan kini tambah lagi uang ujian praktek adiknya. Beban di pundaknya semakin menumpuk dan berat. Tapi, ia berusaha menenangkan diri untuk tidak berteriak dan berontak. Sebagai lelaki sulung ia harus memberi kekuatan dan peneguhan kepada ibu dan adiknya. Bu Kandida masih terus larut dalam kesedihan dan menangis. Ia sungguh bergelut memikirkan nasib putra dan putrinya. Ejha juga meneteskan air matanya. Hidup tanpa seorang suami dan ayah memang tidaklah mudah.





Tinggalkan Balasan