“Cari apa saja yang bermanfaat bagi hidup. Hehehe.”
“Kau sudah berubah sekali Jeka,” kata Ken.
“Hehehe proses evolusi ni, kawan.”
“Hehehe, wow anak kuliah pakai bahasa tinggi ni.”
“Ah, biasa saja kawan.”
“Kau kotor sekali, sepertinya kelelahan dan lapar ni?” tanya Casper.
“Ya benar Cas. Ada yang enak di dalam mobil?”
“Hehehe, kebetulan ada gorengan dan anggur terbaik. Kau mau?”
“Tentu saja.”
“Tunggu! Kuambil biar dinikmati bersama.”
“Silahkan dinikmati, kawan!”
“Ae, sore-sore dapat enak dari orang-orang ibukota.”
Sore itu, Jeka dan dua temannya itu menikmati anggur dan gorengan di samping mobil dan becak tuanya itu. Katanya anggur itu bisa menyala, kalau disiram ke tungku api. Minuman kelas elit itu membuat mereka sedikit muka merah. Casper dan Ken bernostalgia tentang masa lalu mereka. Casper membuka kisahnya tentang seorang guru muda cantik yang dulu pernah mengguncang hatinya. Ken memutar kembali memorinya di saat-saat indah dulu ketika ia disoraki dan disanjung setinggi-tingginya oleh gadis-gadis cantik di kala kakinya mengutak-atik bola dengan begitu indah pada pertandingan sepak bola musiman menjelang Dirgahayu Republik Indonesia.





Tinggalkan Balasan