Larantuka, KN – Perang di wilayah Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT saat ini, memantik perhatian sejumlah pihak. Bukan hanya soal perang tanding dua suku Narasaosina dan Bele Waiburak untuk membuktikan kebenaran batas tanah ulayat dengan pertumpahan darah, tetapi soal tanggung jawab moral kepemimpinan di Nusa Tenggara Timur dan khusunya Kabupaten Flores Timur.
Pemerintah Flotim diingatkan untuk jangan bertindak bodoh dalam menanggapi dan menyelesaikan Perang ini. Pernyataan Bupati Flotim untuk tidak bertanggung jawab atas perang dan korban adalah sebuah gambaran kepemimpinan Flotim sedang mengalami erosi tanggung jawab moral.
“Sebagai pemimpin tidak boleh mengeluarkan statement yang melukai hati warganya sendiri. Tidak bisa melemparkan persoalan perang menjadi tanggung jawab warganya. Untuk apa jadi pemimpin? Seharusnya pemerintah lebih bijak untuk menanggapi dan mencari solusi atas perang warganya,”kata Alvin Lamaberaf Pemerhati masalah Komunikasi dan Sosial, Jumat (15/5/2026).





Tinggalkan Balasan