KUPANG, KN — Deretan stan pameran bambu dan tenda Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berdiri rapi di sekitar area Event Budaya dan Pesta Rakyat Kelurahan Liliba, RT 042, Rabu (12/8).
Beragam produk kuliner lokal berbahan dasar jagung dan ubi, kerajinan tangan, hingga ragam olahan rumah tangga dipajang oleh 24 pelaku usaha setempat.
Udara sore yang cerah semakin semarak dengan lalu lalang pengunjung yang antusias mencicipi dan membeli produk-produk lokal Liliba.
Melihat potensi ekonomi kreatif tersebut, Wakil Wali Kota Kupang Serena Cosgrova Francis mendorong agar pemasaran produk UMKM Kelurahan Liliba tidak berhenti saat festival budaya usai.
Pemerintah Kota Kupang menyiapkan langkah integrasi agar para pelaku usaha kecil dapat memperoleh akses pasar yang berkelanjutan.
Serena meminta panitia penyelenggara segera berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kota Kupang untuk mendata seluruh pedagang yang berpartisipasi agar dapat difasilitasi dalam agenda pasar mingguan daerah.
“Tidak hanya berjualan di event kebudayaan saja di Kelurahan Liliba. Untuk keberlanjutan, jualan bisa masuk di SABOAK, agar setiap Jumat, Sabtu, Minggu juga bisa berjualan,” tegas Serena saat menyampaikan pengarahan.
Ia mengajak seluruh warga Kota Kupang untuk membiasakan diri mengonsumsi dan membeli produk-produk UMKM buatan masyarakat lokal sebagai bentuk dukungan nyata bagi perekonomian keluarga.
“Saya mengajak masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal Liliba dan Kota Kupang. Membeli produk UMKM berarti turut membantu keluarga, usaha kecil, dan harapan masyarakat untuk terus berkembang,” ungkapnya.
Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Liliba, Maria Jeane Salem, dalam laporannya menjelaskan bahwa keterlibatan UMKM merupakan bagian integral dari perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di tingkat kelurahan.
Selain pameran usaha warga, festival ini diisi dengan pementasan seni, lomba cipta menu pangan lokal, serta pertunjukan tarian tradisional yang didanai melalui swadaya masyarakat, dukungan PAD Kecamatan Oebobo, dan partisipasi donatur di bawah semangat gotong royong “Nekaf mese ansauf mese” (satu hati, satu jiwa). (agn)




Tinggalkan Balasan