Jeka tak sanggup membalas luapan amarah perempuan mulut ember itu sebab istri sang pejabat itu bisa-bisa langsung mendepaknya sore itu juga. Ia diam, gugup tanpa kata. Mati kutu. Jeka sangat malu dengan lagak sang pemilik kos. Kubangan air matanya tiba-tiba pecah, menetes deras membasahi pipinya. Wanita galak itu pergi setelah memuntahkan kata-kata pedasnya.
“Kau jangan bersedih dan menangis! Kalau kau diusir, kami akan menampungmu di kamar-kamar kami,” ujar Guido meneguhkan hatinya.
“Dasar perempuan muka duit. Dia tidak punya rasa kemanusian dengan orang yang sedang dirundung duka dan kesusahan. Kau mesti kuat dan tabah! Di sini masih ada kami bersamamu,” kata Castro dengan nada tinggi.
“Terima kasih teman-teman untuk kebaikanmu. Hari-hari ini, aku telah mempertimbangkan dengan matang dan mengambil keputusan untuk kembali ke rumah. Ayah sudah pergi, ibuku sudah sepuh dan tak mungkin bisa membiayai kuliah serta membayar utang kosku,” kata Jeka dengan lirih.
“ … ah, jadi, kau akan pergi dan tidak kuliah lagi?”





Tinggalkan Balasan