“Bu, kumohon beri aku waktu!”

“Waktu apa?”

***

Kematian Pak Ando, menjadi pukulan berat bagi Jeka, ibu dan adik perempuannya. Sejak maut menjemput almarhum, Jeka tak lagi mendapat jatah uang makan, uang kos dan kuliah. Untuk makan dan minum di rantauan, anak tukang becak itu bergantung penuh pada aksi solidaritas beberapa teman kuliahnya yang hampir senasib dengannya. Mumpung rasa kemanusiaan mereka tidak sedang mati suri. Ya, mereka cukup memahami baik arti kemanusiaan seperti yang tertera dalam Pancasila. Anak-anak kos itu memang tidak getol mengklaim diri bahwa aku Pancasila, tapi mereka menghidupi aspek kemanusiaan dengan memberi dari kekurangan mereka. Frasa kemanusiaan itu hanya bermakna kalau ia berinkarnasi dalam situasi lajat seperti ini.

***

“Minggu depan kalau kau masih belum bayar uang kos itu, aku akan melapor ke polisi dan usir kau dari rumah ini! Kalau miskin jangan nekat untuk hidup di kos, paham kamu?” wanita itu kembali menghantam Jeka di hadapan teman-temannya suatu sore.