“Ya, Guido. Itulah … satu-satunya jalan untuk bebas dari tagihan kejam pemilik kos dan tidak lagi membebani kalian.”

“Ah, kau terlalu risau dengan itu, Jeka. Memang moral agama kita mengajarkan bahwa yang tidak susah berkewajiban membantu mereka yang susah dan tak punya. Tapi, … sudahlah! Kalau itu jalan terbaik menurutmu, kami akan mendukung keputusan itu.”

***

Mahasiswa semester empat itu kembali ke rumah setelah dua tahun mencuri ilmu di universitas ternama itu. Ia menjadi satu-satunya harapan hidup bagi ibu dan Ejha adiknya yang masih duduk di bangku SMA. Anak tukang becak itu pulang rumah bukan lantaran tak mampu secara akademis, tapi karena masalah krisis keuangan akut yang menerpa kehidupan keluarganya.

“Jeka, kamu sudah tak kuliah lagi, ya?” tanya Dewi di messengernya.

“Benar Dewi. Aku sudah mengundurkan diri dari kampus lantaran ayah, satu-satunya orang yang membiayai kuliahku sudah pergi meghadap Tuhan,” balasnya.

“Sungguh sedih mendengar berita duka ini, Jeka. Aku doakan keselamatan jiwa ayahandamu dan kekuatan bagi keluargamu.”

“Terima kasih banyak Dewi. Kudoakan kalian semua semoga kelak menjadi orang-orang sukses di negeri ini.”

“Amin. Doa yang sama tukmu.”

***

Sejak berada kota Kambar, Jeka membanting haluan hidup sebagai pemulung sampah. Ia memanfaatkan tempat pembuangan sampah sebagai kampus kehidupan. Pilihan Jeka menjadi pemulung adalah sebuah keputusan yang tak lazim. Hal seperti itu menjadi sebuah ironi besar dengan gaya hidup teman-temannya di kampus dan para pemuda zaman now yang gengsi meraba kotoran, mencangkul tanah dan berjemur diri di bawah panas matahari karena takut hitam.

“Demi menyambung hidup di tengah persaingan manusia dan kejamnya pandemi Covid-19 sebuah keputusan mesti diambil. Anda sendiri yang mesti menentukan nasib dan masa depanmu, bukan orang lain. Banyak pula orang-orang sukses di dunia yang tidak pernah tamat dari universitas,” tulis Jeka dalam buku agenda pribadinya setelah berjam-jam bergulat dengan dirinya.

***

Sejak ia berada di rumah wajah lahan kering di sekitar rumahnya berubah menjadi hijau. Pagi-pagi buta Jeka dengan becak tua itu menuju ke tempat pembuangan sampah. Sore harinya ia kembali dengan menenteng besi tua, gelas dan botol plastik di becak lapuknya itu. Setiap kali Jeka lewat dengan becak tuanya di jalan umum banyak warga menyapanya dengan bahasa-bahasa sinis dan ejekan beracun. Mungkin saja para warga Kambar itu ingin membunuh kreativitas anak miskin itu. Jeka tak pernah tersinggung sedikit pun. Di mata warga Kambar yang mayoritas adalah juragan sapi dan tuan tanah, remah-remah sampah adalah benar-benar sampah busuk yang tak berharga. Jeka melihat di balik remah-remah sampah itu tersimpan angka-angka rupiah yang bisa menyambung nafas kehidupan keluarganya.