“Demi sebuah perubahan kita butuh ide-ide gila dan nekat,” pesan Pak Ando kepada putranya suatu malam di meja makan sebelum Jeka berangkat ke ibukota lagi. Di kota metropolitan itu Jeka menetap di rumah kos milik juragan sapi yang kini duduk sebagai anggota parlamen di ibukota.
***
Setelah Covid-19 menyebrang dari Wuhan ke Tanah Air, pak Ando berdiam manis di rumah saja. Tempat wisata di mana ia mengais rezeki sepanjang hidupnya ditutup untuk umum. Para turis baik lokal maupun internasional yang biasa memakai jasa becak tuanya tak lagi muncul. Sudah berbulan-bulan becak tua Pak Ando parkir di teras rumah bagian belakang. Krisis ekonomi akut melanda kehidupan si tukang becak itu. Urusan Jeka di universitas dan kosnya kocar-kacir. Tiada hari pemilik kos memarahi anak tukang becak itu gara-gara utang kos yang sudah membukit. Hal yang mirip terjadi di kampus. Pegawai bagian keuangan kampus selalu melayangkan surat tagihan uang regis kepadanya. Tak hanya ayah Jeka yang mengalami kesulitan ekonomi, tapi kios-kios kecil di sekitar kota wisata itu amblas.
Dulu dalam situasi normal sebelum angin sakal pandemi menerpa kota Kambar, biasanya Pak Ando mendapat rezeki yang cukup lumayan dari para pelancong wisata. Setelah virus kejam itu tiba di sana tukang becak itu harus duduk manis di rumah. Lelaki paruh baya itu dililiti oleh rasa frustasi dan stres lantaran tiba-tiba saja mata pencahariannya lenyap sekejap dari kehidupannya. Itu memang berat. Tukang becak itu jatuh sakit. Seminggu kemudian ia mati lantaran dicekik oleh monster haus darah itu.
***
“Saya berharap kau bisa segera membayar uang kos yang sudah mandek beberapa bulan ini,” kata istri anggota dewan terhormat itu melalui pesan singkat di Handphone Jeka.
“Malam Bu. Beribu maaf untuk keterlambatan membayar kos selama masa pandemi ini. Keluargaku lagi susah setelah ayah meninggal karena virus corona. Saya sedang berusaha mencari uang untuk melunasi utang kosku,” Jeka membalasnya dengan sopan.
“Itu bukan masalahku! Urusanku dengan kau adalah uang kos. Titik. Semoga kau bisa menepati ucapanmu ini. Jika tidak, maka aku akan membuang barang-barangmu dari rumahku!”







Tinggalkan Balasan