***
Tukang becak itu tak patah harapan. Ia mencari jalan lain untuk Jeka setelah kegagalan itu, apalagi umur putranya itu sudah melewati syarat pada seleksi tahun berikutnya. Pak Ando mengirim putranya ke sebuah universitas ternama di ibukota. Di sekolah bergengsi yang amat mahal itu mayoritas muridnya adalah anak kaum elit, juragan tanah dan pemilik modal. Lagi-lagi tukang becak itu nekat mati mengirim putranya ke sana. Ia percaya diri bahwa becak tuanya yang sudah bertahun-tahun menopang kehidupan keluarganya bisa membantu putranya menuju kesuksesan.
“Demi sebuah perubahan kita butuh ide-ide gila dan nekat,” pesan Pak Ando kepada putranya suatu malam di meja makan sebelum Jeka berangkat ke ibukota lagi. Di kota metropolitan itu Jeka menetap di rumah kos milik juragan sapi yang kini duduk sebagai anggota parlamen di ibukota.
***
Setelah Covid-19 menyebrang dari Wuhan ke Tanah Air, pak Ando berdiam manis di rumah saja. Tempat wisata di mana ia mengais rezeki sepanjang hidupnya ditutup untuk umum. Para turis baik lokal maupun internasional yang biasa memakai jasa becak tuanya tak lagi muncul. Sudah berbulan-bulan becak tua Pak Ando parkir di teras rumah bagian belakang. Krisis ekonomi akut melanda kehidupan si tukang becak itu. Urusan Jeka di universitas dan kosnya kocar-kacir. Tiada hari pemilik kos memarahi anak tukang becak itu gara-gara utang kos yang sudah membukit. Hal yang mirip terjadi di kampus. Pegawai bagian keuangan kampus selalu melayangkan surat tagihan uang regis kepadanya. Tak hanya ayah Jeka yang mengalami kesulitan ekonomi, tapi kios-kios kecil di sekitar kota wisata itu amblas.





Tinggalkan Balasan