KUPANG, KN — Penyelenggaraan Kupang Digital Fest 2026 terbukti menjadi stimulus nyata dalam menggerakkan roda perekonomian lokal di Nusa Tenggara Timur.
Lewat sinergi kokoh antara Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT dan Pemerintah Kota Kupang, festival ini sukses membuka ruang niaga baru yang memperkuat daya saing para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Apresiasi besar diberikan oleh Pemkot Kupang terhadap konsistensi BI dalam menggelar kegiatan edukatif yang berdampak langsung pada omzet pedagang kecil serta pengenalan transaksi non-tunai kepada publik.
Ribuan Transaksi QRIS Catat Tren Positif bagi UMKM
Deputi Bidang Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Rio Khasananda, mengungkapkan bahwa antusiasme warga dalam memanfaatkan metode pembayaran digital selama festival ini sangat masif.
Hal tersebut tecermin dari tingginya volume penggunaan QRIS di stan-stan pameran kuliner dan produk lokal.
BI mencatat perputaran uang dan nilai transaksi dagang para pelaku UMKM mengalami grafik kenaikan yang signifikan selama acara berlangsung.
“Selama pelaksanaan kegiatan tercatat ribuan transaksi QRIS dengan nilai transaksi UMKM yang terus meningkat. Hal tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi mampu mendorong aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat daya saing UMKM lokal,” papar Rio Khasananda secara detail.
Sinergi Lintas Event Gairahkan Perekonomian Kota
Selain melalui festival digital, komitmen BI dalam mendongkrak aktivitas ekonomi di Kota Kasih juga diwujudkan melalui dukungan terhadap event olahraga makro seperti Independence Night Run yang digelar pada hari yang sama.
Sekda Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi finansial harus terus diakselerasi agar masyarakat mendapatkan akses layanan yang aman dan efisien.
“Kita harus mengubah paradigma berkompetisi menjadi berkolaborasi. Kolaborasi yang telah terbangun bersama Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan terus diperkuat guna mempercepat transformasi digital, memperkuat UMKM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” pungkas Jeffry Edward Pelt. (agn)







Tinggalkan Balasan