“Jangan menangis, Bu! Aku akan berusaha sekuat tenaga agar Ejha bisa ikut ujian. Cukup aku yang putus kuliah. Ejha harus tetap sekolah,” Jeka meneguhkan hati ibu dan adiknya itu.

“Ya, Nak. Tapi, kamu mau ambil duit dari mana, Nak?”

“Sampah-sampah yang aku kumpulkan selama ini bisa menghasilkan uang.”

“Lah, mana mungkin dalam situasi pandemi orang mau beli sampah-sampah bekas, Nak.”

Malam itu, Jeka tak bisa tidur nyeyak. Ia bingung memikirkan tentang toko yang bisa menerima remah-remah sampah itu. Rasa gelisah dan frustasi menemaninya hingga mentari terbit di ufuk timur.

***

Suatu sore sekembalinya dari tempat pembuangan sampah, Jeka berpapasan dengan dua orang teman lamanya, Casper dan Ken di jalan. Kedua pemuda itu adalah kakak kelas Jeka dulu di SD dan tandem terbaik Jeka dalam bermain bola kaki. Mereka kini sudah menjadi orang sukses di ibukota.

“Jeka, dari mana kamu dengan becak tua ini?” tanya Casper setelah turun dari atas mobil Hilux itu.

“Dari tempat pembuangan sampah.”

“Aku tahu, kau dulu piara banyak babi. Kau cari makanan babi di sana, ya?”

“Cari apa saja yang bermanfaat bagi hidup. Hehehe.”

“Kau sudah berubah sekali Jeka,” kata Ken.

“Hehehe proses evolusi ni, kawan.”

“Hehehe, wow anak kuliah pakai bahasa tinggi ni.”

“Ah, biasa saja kawan.”

“Kau kotor sekali, sepertinya kelelahan dan lapar ni?” tanya Casper.

“Ya benar Cas. Ada yang enak di dalam mobil?”

“Hehehe, kebetulan ada gorengan dan anggur terbaik. Kau mau?”

“Tentu saja.”

“Tunggu! Kuambil biar dinikmati bersama.”

“Silahkan dinikmati, kawan!” 

“Ae, sore-sore dapat enak dari orang-orang ibukota.”

Sore itu, Jeka dan dua temannya itu menikmati anggur dan gorengan di samping mobil dan becak tuanya itu. Katanya anggur itu bisa menyala, kalau disiram ke tungku api. Minuman kelas elit itu membuat mereka sedikit muka merah. Casper dan Ken bernostalgia tentang masa lalu mereka. Casper membuka kisahnya tentang seorang guru muda cantik yang dulu pernah mengguncang hatinya. Ken memutar kembali memorinya di saat-saat indah dulu ketika ia disoraki dan disanjung setinggi-tingginya oleh gadis-gadis cantik di kala kakinya mengutak-atik bola dengan begitu indah pada pertandingan sepak bola musiman menjelang Dirgahayu Republik Indonesia.