Opini  

Cerpen: Isyarat yang Bermakna

Fransiska X. C. Olang

Oleh: Fransiska X. C. Olang

Kisah ini tentang seorang gadis bernama Maudy, gadis remaja berusia 17 tahun yang menghabiskan waktunya di kursi roda menangis dan menuliskan pesan hatinya di dalam sebuah buku catatan hariannya yang hanya dia sendiri dan pena kecilnya yang setia menemani kesedihan hatinya.

Fajar menyapanya dengan lembut seorang wanita tua berhijab membangunkannya, Ya..tentu saja itu adalah Bi Ina seorang asisten rumah tangga yang senantiasa merawat Maudy dari masih kecil hingga tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik, meskipun Maudy sadar bahwa Bi ini memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya yang menganut agama muslim sedangkan keluarga Maudy menganut agama kristen tetapi semua itu tidak pernah menimbulkan sebuah perbedaan, diantara mereka kasih sayang yang tulus di berikan Bi Ina terhadap Maudy seperti kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Setelah membangunkan Maudy, Bi Ina langsung kembali ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Maudy, Bahkan semenjak kepergian orang tua Maudy akibat kecelakaan yang menyebabkan ayah dan ibu Maudy meninggal dan Maudy mengalami kelumpuhan. Mereka tidak pernah bersama lagi namun setiap kenangan saat bersama kedua majikannya selalu terbesit dalam ingatan Bi Ina.

Maudy pun terbangun dan perlahan menghela nafas menarik kursi roda yang ada di sampingnya tanpa meminta bantuan Bi Ina karena baginya hal itu sudah menjadi kebiasaannya dia selalu melarang Bi Ina untuk membantunya untuk duduk di kursi roda, karena baginya dia bukan anak kecil yang setiap hari merengek meminta bantuan dia, bahkan selalu berusaha melakukan hal itu tanpa dibantu oleh Bi Ina. Maudy pun lekas menemui Bi Ina di meja makan dan merekapun secara lahap menghabiskan semua sarapan.

Setelah selesai sarapan Maudy mengajak Bi Ina untuk ke taman karena baginya taman adalah salah satu tempat ternyaman untuk mengusik segala kepenatannya dan di sanalah Maudy menghabiskan waktu untuk menulis dan menuangkan perasaannya didalam buku catatan harian miliknya.

Setiap tinta memberi makna dan pesan yang setiap hari ditulisnya, setiap lembaran dilewati dan mulai menulis pada lembaran baru dan kali ini Maudy menuliskan kisah pilu pasca kecelakaan yang menewaskan orangtuanya dan menyebabkan dia harus mengalami kelumpuhan, Kisah pun ditulis pada setiap lembarannya

Catatan Harianku, Jakarta 12 november 1999

“Namaku Maudy umurku 17 tahun .Aku memiliki kedua orang tua yang sangat mencintaiku karena mereka selalu memberikan apapun yang aku inginkan seperti yang diimpikan oleh para remaja seusiaku, yah …, tentunya kebahagiaan, karena aku selalu dimanjakan oleh fasilitas mewah yang diberikan oleh orang tuaku. Bahkan aku disekolahkan di salah satu sekolah favorit yang ada di Jakarta yang tentunya sekolah tersebut dipenuhi oleh para siswa dan siswi yang bukan hanya berprestasi, tetapi juga anak-anak dari kalangan kelas atas dengan ekonomi orang tua mereka yang fantastis .

Tentu saja semua itu aku dapatkan karena orang tua ku yang bekerja di sebuah perusahaan yang terbaik di Jakarta, semuanya itu aku dapatkan dengan mudah karena aku terlahir dari keluarga yang bagiku sangatlah sempurna bahkan aku adalah anak tunggal didalam keluarga kami. Akan tetapi secara perlahan sesuatu yang berharga seolah-olah terenggut dari ku, Ayah dan ibu ku yang biasanya selalu menyempatkan waktu untuk bersamaku kini lebih memprioritaskan pekerjaan daripada menyediakan waktu mereka untuk bersamaku.

Bahkan aku selalu menyendiri setiap kali ayah dan ibuku bertengkar hanya karena masalah sepele atau karena masalah perusahaan yang yang tidak mampu ditangani lagi , aku selalu mengurungkan diriku dan mengunci pintu dikamar.

Sesekali aku menatap ke cermin dan berkata di dalam hati kecilku ”Tuhan Aku muak dengan sandiwara ini, aku benci dengan semua yang saat ini terjadi dalam hidupku dan merasa bahwa semua yang saat ini ku miliki adalah percuma Karena aku memiliki segalanya tapi bukan tentang kedamaian hati dan keharmonisan yang aku rasakan “.

Pertengkaran hebat antara kedua orang tua ku menyebabkan keharmonisan di dalam keluarga kami tidak lagi ku rasakan. Ayah dan ibu yang biasanya selalu menghabiskan waktu di rumah bersamaku , kini semua itu hanya angan yang aku rindukan, setiap kali ibu mengajakku bercengkrama dan bercerita sambil menikmati secangkir teh bersama ayah di ruang keluarga, setiap kali aku membayangkan tentang itu, air mataku selalu menetes dan segalanya ku tulis didalam buku harian ku karena setiap kali aku menulis aku merasakan kelegahan karena aku dapat menuangkan segala perasaan didalam buku harian ku.

Alaram di pagi hari membangunkanku, saat terbangun mataku mulai menatap pada jarum waktu yang selalu berputar dan mengingatkanku tentang kejadian hari itu saat acara ulang tahunku tiba.

Aku meniatkan diri dan menyempatkan waktu untuk mengajak orangtuaku bertemu di kafe dan membahas mengenai perayaan ulang tahunku dan aku pun memutuskan mengirim pesan kepada orangtuaku saat mereka sedang bekerja . Semuanya diluar dugaanku, aku berpikir mereka akan mengingat tentang hari ulang tahunku, tapi ternyata justru mereka lupa pada satu hari istimewa itu.

Air mataku tiba-tiba menetes saat membaca balasan pesan dari ayah yang mengatakan bahwa dia sangat sibuk dan meminta maaf padaku bahwa dia hampir melupakan hari ulang tahunku katanya karena akhir-akhir ini dia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya. Begitu pula sebaliknya dengan ibuku yang tampaknya lebih sibuk mengurus dan menjahit baju karena dia adalah seorang desainer yang harus menghabiskan waktunya merancang dan menjahit baju di butik. Akan tetapi itu tidaklah penting bagiku karena aku terbiasa ditinggalkan mereka karena urusan pekerjaan.

BACA JUGA:  KSP Kopdit Mawar Moe Lebih Siap Bersaing dan Maju Bersama Anggota

Tibalah hari dimana ulang tahunku, tiba aku sama sekali tidak menyangka karena aku mendapatkan kejutan dari teman-temanku, aku sangat bahagia pada saat itu , aku juga sempat berpikir untuk mengabaikan tentang waktu dan kebahagian yang seharusnya aku rayakan bersama ayah dan ibuku. Akan tetapi tiba-tiba klakson mobil berbunyi tepat didepan halaman rumah, aku sangat kaget dan tidak menyangka bahwa yang datang itu adalah ayah dan ibuku , yang dimana ada saat itu aku justru tidak berpikir bahwa mereka menyempatkan waktu untuk merayakan ulang tahunku.

Perasaanku saat itu bercampur menjadi satu antara sedih dan rasa bahagia yang tidak mampu aku utarakan hingga aku belum mampu menggambarkan bagaimana kebahagiaanku saat itu. Akupun segera berlari dan menghampiri ayah dan ibuku serta memeluk mereka dengan erat sambil menangis dan berkata ; Terimakasih ayah, terimakasih ibu karena hadiah terindah ku hadir tepat didepan mataku , aku sangat bahagia dan bersyukur kepada tuhan karena kalian hadir hari ini , hari dimana aku menginjak usia 17 tahun.

Kedua orang tuanya juga terharu dengan apa yang Maudy katakan dan berniat mengajak Maudy untuk makan malam bersama dan merayakan ulang tahun bersama anggota keluarga lainnya. Ketika waktu sudah mendekati pukul 18.00 suasana terasa berbeda semua keluarga telah tiba di restoran mahal yang sengaja dipersiapkan sebagai tempat makan malam sekaligus merayakan ulang tahun Maudy, Ayah segera bergegas menyetir mobil kembali, ku sempatkan waktu menulis lagi, setelah itu menemui ayah dan ibu untuk pergi bersama, tak lupa pula kami mengajak Bi Ina untuk pergi tetapi Bi Ina menolak katanya kurang enak badan dan merasa sesuatu akan terjadi (Firasat Bi Ina).

Kami pun berangkat menuju restoran yang jaraknya cukup jauh dari kediaman kami tetapi entahlah dalam perjalanan aku merasa sesuatu akan terjadi, tentu saja semua itu diluar dugaan karena ayah menyetir mobil dengan kecepatan yang tidak terkontrol, hingga masuk ke jurang, nyawaku bisa tertolong tapi tidak degan kedua orangtuaku.

Saat itu aku hanya bisa terbaring dengan kondisi yang sangat parah, sekujur tubuhku dipenuhi darah bahkan kakiku pun sangat sulit digerakkan, aku berusaha untuk terbangun tapi membuka kedua mataku saja sangatlah berat bagiku. Satu hal yang tak dapat aku lupakan ketika kecelakaan itu menewaskan kedua orangtuaku. Saat itu ingin sekali rasanya aku berteriak tapi aku tak berdaya. Aku hanya bisa menggenggam tangan ibu yang ada di sampingku, dengan kondisi tak sadarkan diri, aku sempat terlihat ibu meneteskan air mata saat itu dan itulah yang membuat aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menangis, hingga bantuan datang kamipun dibawah ke Rumah sakit terdekat.

Pukul 00.00, terakhir kalinya bagiku melihat ayah dan ibu, aku tersadar dan berusaha bangun dan pergi keruangan dimana jasat Ayah dan Ibuku ada disana . Aku berusaha membangunkan bibi yang tertidur di samping saat menjagaku, karena bibi tak bangun untungnya salah satu petugas medis datang dan menopangku berjalan meskipun kaki ku sangat sulit untuk digerakkan, tetapi aku berusaha melihat jasat ayah dan ibu untuk terakhir kalinya.

Tangisan ku pecah kalah itu, saat melihat jasat ayah dan ibuku, pada saat itu aku sudah berfikir bahwa yah…, aku kini sebatang kara yang dapat aku lakukan hanyalah menangis dan berpikir untuk mengakhiri hidupku, arena percuma aku hidup tanpa kedua orangtuaku.

Keesokan harinya ketika aku di hantar kembali ke rumah untuk segera menghadiri pemakaman ayah dan ibuku, tiba-tiba seorang gadis kecil berlari ke arahku dan memberikan setangkai mawar yang sangat indah. Sambil menggerakan tangan dan berusaha memberi isyarat dengan bahasa tubuhnya seolah-olah mengatakan padaku agar aku tidak bersedih lagi. Aku mengusap air mataku, senyum yang terlihat dari bibirnya membuat hatiku begitu tenang, aku tahu bahwa keadaan mengharuskan aku menghadapai semuanya.

Kehilangan ayah dan ibu bahkan aku harus mengalami kelumpuhan, aku mengulurkan tangan dan mencoba berkenalan dengannya, tetapi dia hanya mencoba memberi isyarat dengan bahasa tubuhnya yang aku tak mengerti maksudnya.Tetapi aku mencoba menyuruhnya menuliskan nama pada sebuah lembaran kecil dengan senang hati, ia mengikutinya dan menulis, ternyata nama gadis cantik itu adalah Tasya. Akupun tersenyum padanya dan segera mendekap dan merangkulnya dengan erat aku menangis saat membaca tulisan Kecil dibalik lembaran itu ”Jangan sedih lagi ya kak ,Tasya yakin bahwa kamu bisa melewati semua cobaan yang saat ini kamu hadapi, tersenyumlah karena satu hari terindah akan datang padamu”

Sangat singkat pertemuan itu, namun ada begitu banyak hal yang dapat aku petik dari semua yang terjadi bahwa tidak selamanya kebahagiaan akan kamu dapatkan tetapi kamu juga akan melalui masa tersulit dalam hidupmu, kehilangan orang terdekat memanglah hal yang sangat menyakitkan, tetapi percayalah bahwa kamu tidak akan pernah sendiri menghadapinya, karena masih begitu banyak orang yang sangat mengasihi dan akan datang membawa kebahagian dalam hidupmu, percayalah. (*)