“Mengapa kau diam saja? Ada apa Jeka?” tanya Casper.
“Frustasi berat kawan.”
“Ada apa?” tanya Ken.
“Masalahnya sangat rumit.”
“Hanya kematian yang tak ada solusinya.”
“Ceritakanlah kepada kami!” pinta Casper dengan serius.
“… aku sudah putus kuliah.”
“Lah, kenapa begitu?”
“Ayah telah tiada. Aku harus memulung setiap hari. Aku menekuni pekerjaan najis ini demi menghidupi keluarga, membantu adik sekolah dan membayar utang kosku di ibukota. Utang itu jika tak dilunasi, maka pemilik kos akan menggiringku ke ranah hukum.”
Wajah Casper dan Ken yang ceria dan penuh tawa tiba-tiba muram. Mereka terdiam lama setelah mendengar Jeka berkisah tentang peliknya kehidupan Jeka.
“… tetap kuat dan semangat kawan. Kami akan mencoba membantumu sebisa mungkin,” ujar Casper menguatkannya.
“Silahkan diteguk, kawan! Ini seloki terakhir untukmu. Anggur ini adalah anggur terbaik dari negeri seberang, sisa dari pesta ulang tahun bos kami kemarin,” kata Ken sembari menyodorkan seloki kepada Jeka. Ken menggulingkan botol anggur itu ke dalam selokan. Tapi, Jeka memungutnya karena bernilai mahal kalau dijual.
“Jeka, bagaimana rasa anggurnya?” tanya Ken.
“Aku merasa seperti di surga saja.”
“Hahahahaha,” mereka tertawa terbahak-bahak.
“Jeka, bawa ini pulang ke rumah bersama sampah-sampah ini!” kata Casper sembari meletakkan sebuah amplop putih di atas becak tua itu.
“Apa ini, kawan?”
“Jangan kau tolak! Ini oleh-oleh sedikit dari kami. Bawalah ke rumah untuk utang kos dan urusan adikmu nanti!”
“Semoga ini bisa membantu kamu dan adikmu,” kata Ken.
Jeka meneteskan air mata di hadapan kedua sahabatnya itu. Ken dan Casper merangkulnya dengan penuh hangat.
“Besok pagi, kami akan menjemput sampah-sampah itu di rumahmu,” ujar Casper.
“Mau dibawa ke mana Cas?” tanya Jeka.
“Itu urusan kami, kawan.”
Chile, Agustus 2021







Tinggalkan Balasan