“Terima kasih banyak Dewi. Kudoakan kalian semua semoga kelak menjadi orang-orang sukses di negeri ini.”
“Amin. Doa yang sama tukmu.”
***
Sejak berada kota Kambar, Jeka membanting haluan hidup sebagai pemulung sampah. Ia memanfaatkan tempat pembuangan sampah sebagai kampus kehidupan. Pilihan Jeka menjadi pemulung adalah sebuah keputusan yang tak lazim. Hal seperti itu menjadi sebuah ironi besar dengan gaya hidup teman-temannya di kampus dan para pemuda zaman now yang gengsi meraba kotoran, mencangkul tanah dan berjemur diri di bawah panas matahari karena takut hitam.
“Demi menyambung hidup di tengah persaingan manusia dan kejamnya pandemi Covid-19 sebuah keputusan mesti diambil. Anda sendiri yang mesti menentukan nasib dan masa depanmu, bukan orang lain. Banyak pula orang-orang sukses di dunia yang tidak pernah tamat dari universitas,” tulis Jeka dalam buku agenda pribadinya setelah berjam-jam bergulat dengan dirinya.
***
Sejak ia berada di rumah wajah lahan kering di sekitar rumahnya berubah menjadi hijau. Pagi-pagi buta Jeka dengan becak tua itu menuju ke tempat pembuangan sampah. Sore harinya ia kembali dengan menenteng besi tua, gelas dan botol plastik di becak lapuknya itu. Setiap kali Jeka lewat dengan becak tuanya di jalan umum banyak warga menyapanya dengan bahasa-bahasa sinis dan ejekan beracun. Mungkin saja para warga Kambar itu ingin membunuh kreativitas anak miskin itu. Jeka tak pernah tersinggung sedikit pun. Di mata warga Kambar yang mayoritas adalah juragan sapi dan tuan tanah, remah-remah sampah adalah benar-benar sampah busuk yang tak berharga. Jeka melihat di balik remah-remah sampah itu tersimpan angka-angka rupiah yang bisa menyambung nafas kehidupan keluarganya.





Tinggalkan Balasan