Oleh
Leo de Jesus Leto
Semua masih baik-baik saja saat itu. Tak pernah ada satu media pun yang mencium bau amis pandemi virus corona. Jeka berkelana ke ibukota. Pemuda yang ramah dan pekerja keras itu nekat merantau ke sana dengan sebuah ambisi terselubung. Ia punya segudang impian dan ingin terbang tinggi jauh ke langit. Jeka ingin sekali mengikuti seleksi perwira tinggi kepolisian di ibukota. Ide gila itu lahir dari benaknya sejak ia masih bocah. Ayahnya, Pak Ando, seorang tukang becak di kota wisata kota Kambar turut mendukung penuh hasrat putranya itu.
“Ayah ingin kau menjadi polisi yang sukses, jujur dan bisa memberantas tuntas mafia-mafia korupsi di Tanah Air kita. Itu sudah membuat saya dan ibumu bahagia,” katanya kepada Jeka suatu pagi sebelum ia beranjak pergi dengan becak tuanya.
Lelaki paruh baya itu sangat ingin nasib putranya menjadi pejabat tinggi kepolisian agar tidak senasib seperti dirinya di kemudian hari. Tukang becak itu berpikir cerdas jauh ke depan tentang masa depan anaknya. Itu suatu hal yang positif. Ayah Jeka tergolong tipe orang miskin yang nekat, sok kaya dan berpengaruh. Ia tidak tahu bahwa jalan untuk tiba pada sekolah perwira tinggi itu tak semudah yang dibayangkannya. Hanya kaum bermodal, para pejabat birokrat dan kelas menegah ke atas yang bisa akses ke sana. Sebulan setelah mengikuti proses seleksi, Jeka dinyatakan gugur pada tangga terakhir. Pemuda berbadan atletis itu mengirim pesan kepada ayahnya bahwa ia sudah gugur. Seandainya ia tidak terjatuh di tangga itu, kini Jeka sudah masuk ke dalam dunia pendidikan kepolisian. Dari aspek finansial dompet Jeka sangat tipis, bahkan kadang-kadang kosong sama sekali. Tapi, dari segi fisik, mental dan intelektual Pak Ando sangat yakin putranya sangat layak.





Tinggalkan Balasan