“Bu, kumohon beri aku waktu!”
“Waktu apa?”
***
Kematian Pak Ando, menjadi pukulan berat bagi Jeka, ibu dan adik perempuannya. Sejak maut menjemput almarhum, Jeka tak lagi mendapat jatah uang makan, uang kos dan kuliah. Untuk makan dan minum di rantauan, anak tukang becak itu bergantung penuh pada aksi solidaritas beberapa teman kuliahnya yang hampir senasib dengannya. Mumpung rasa kemanusiaan mereka tidak sedang mati suri. Ya, mereka cukup memahami baik arti kemanusiaan seperti yang tertera dalam Pancasila. Anak-anak kos itu memang tidak getol mengklaim diri bahwa aku Pancasila, tapi mereka menghidupi aspek kemanusiaan dengan memberi dari kekurangan mereka. Frasa kemanusiaan itu hanya bermakna kalau ia berinkarnasi dalam situasi lajat seperti ini.
***
“Minggu depan kalau kau masih belum bayar uang kos itu, aku akan melapor ke polisi dan usir kau dari rumah ini! Kalau miskin jangan nekat untuk hidup di kos, paham kamu?” wanita itu kembali menghantam Jeka di hadapan teman-temannya suatu sore.
Jeka tak sanggup membalas luapan amarah perempuan mulut ember itu sebab istri sang pejabat itu bisa-bisa langsung mendepaknya sore itu juga. Ia diam, gugup tanpa kata. Mati kutu. Jeka sangat malu dengan lagak sang pemilik kos. Kubangan air matanya tiba-tiba pecah, menetes deras membasahi pipinya. Wanita galak itu pergi setelah memuntahkan kata-kata pedasnya.
“Kau jangan bersedih dan menangis! Kalau kau diusir, kami akan menampungmu di kamar-kamar kami,” ujar Guido meneguhkan hatinya.
“Dasar perempuan muka duit. Dia tidak punya rasa kemanusian dengan orang yang sedang dirundung duka dan kesusahan. Kau mesti kuat dan tabah! Di sini masih ada kami bersamamu,” kata Castro dengan nada tinggi.
“Terima kasih teman-teman untuk kebaikanmu. Hari-hari ini, aku telah mempertimbangkan dengan matang dan mengambil keputusan untuk kembali ke rumah. Ayah sudah pergi, ibuku sudah sepuh dan tak mungkin bisa membiayai kuliah serta membayar utang kosku,” kata Jeka dengan lirih.
“ … ah, jadi, kau akan pergi dan tidak kuliah lagi?”







Tinggalkan Balasan