“Jangan menangis, Bu! Aku akan berusaha sekuat tenaga agar Ejha bisa ikut ujian. Cukup aku yang putus kuliah. Ejha harus tetap sekolah,” Jeka meneguhkan hati ibu dan adiknya itu.

“Ya, Nak. Tapi, kamu mau ambil duit dari mana, Nak?”

“Sampah-sampah yang aku kumpulkan selama ini bisa menghasilkan uang.”

“Lah, mana mungkin dalam situasi pandemi orang mau beli sampah-sampah bekas, Nak.”

Malam itu, Jeka tak bisa tidur nyeyak. Ia bingung memikirkan tentang toko yang bisa menerima remah-remah sampah itu. Rasa gelisah dan frustasi menemaninya hingga mentari terbit di ufuk timur.

***

Suatu sore sekembalinya dari tempat pembuangan sampah, Jeka berpapasan dengan dua orang teman lamanya, Casper dan Ken di jalan. Kedua pemuda itu adalah kakak kelas Jeka dulu di SD dan tandem terbaik Jeka dalam bermain bola kaki. Mereka kini sudah menjadi orang sukses di ibukota.

“Jeka, dari mana kamu dengan becak tua ini?” tanya Casper setelah turun dari atas mobil Hilux itu.

“Dari tempat pembuangan sampah.”

“Aku tahu, kau dulu piara banyak babi. Kau cari makanan babi di sana, ya?”