Yang terjadi justru sebaliknya. Pesanan raksasa diberikan ke luar negeri, sementara pabrik-pabrik lokal dibiarkan dengan kapasitas menganggur. Ini bukan kebijakan industrialisasi. Ini adalah kebijakan de-industrialisasi.

Bangkai Mobil sebagai Simbol Kegagalan Tata Kelola

Kita sekarang berada di persimpangan. Seribu unit kendaraan telah tiba. Dua ratus di antaranya sudah di tangan Kodim, siap disalurkan ke koperasi . Ratusan ribu unit lainnya akan menyusul. Dan di atas meja, ada surat penundaan dari DPR, ada desakan pembatalan dari Kadin, ada pernyataan “manut” dari Dirut Agrinas, dan ada ancaman penalti kontraktual.

Apa yang akan terjadi? Skenario terburuknya adalah: mobil-mobil itu tetap digunakan, industri lokal terpukul, dan janji “kemandirian desa” berubah menjadi ketergantungan baru pada suku cadang India. Skenario terbaiknya adalah: pemerintah berani membayar penalti, membatalkan kontrak, dan memesan ulang ke industri lokal—meski ini berarti kerugian negara di awal, tapi menyelamatkan industri dalam jangka panjang.