Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah darah kehidupan ekonomi yang dihisap keluar dari tubuh bangsa. Dan untuk apa? Demi 105.000 unit kendaraan yang—ironisnya—akan digunakan untuk program yang disebut “Koperasi Desa Merah Putih”, program yang konon ingin memandirikan petani.

Kapasitas Nasional yang Dikhianati

Yang paling tragis dari seluruh episode ini adalah pengkhianatan terhadap kapasitas nasional. Industri otomotif dalam negeri, yang dihuni oleh pabrikan seperti Suzuki, Isuzu, Mitsubishi, Wuling, DFSK, Toyota, dan Daihatsu, memiliki kapasitas produksi pikap nasional mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun dengan TKDN rata-rata di atas 40 persen. Jaringan purna jual mereka telah terbangun puluhan tahun hingga ke pelosok desa. Mereka siap memproduksi, bahkan untuk tipe 4×4, hanya perlu waktu persiapan.

Mengapa mereka disisihkan? Argumen Agrinas tentang “harga lebih murah” dan “waktu lebih cepat” adalah argumentasi kapitalisme jangka pendek yang mengabaikan pembangunan kapasitas produktif jangka panjang. Dalam logika industrialisasi sejati, sebuah proyek sebesar ini seharusnya menjadi momentum untuk mendorong industri lokal naik kelas. Berikan mereka pesanan, tantang mereka untuk berinovasi, tekan mereka untuk efisien—itulah cara membangun bangsa.