Oleh: Jacob Petrus Nalle
Dalam rentang waktu 48 jam terakhir, kita menyaksikan sebuah pertunjukan teater politik-ekonomi yang absurd. Di satu sisi, panggung parlemen bergema dengan seruan lantang untuk menunda—bahkan membatalkan—impor 105.000 unit kendaraan niaga dari India. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dengan tegas menyampaikan pesan penundaan . Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan sigap menyatakan, “Pas Dasco udah komentar kemarin, kita ikuti pak Dasco saja” . Semua tampak kompak, seolah-olah negara telah bersatu padu membela industri nasional.
Namun di saat yang sama, di Pelabuhan Tanjung Priok, 1.000 unit kendaraan impor itu telah berlabuh. Dua ratus unit di antaranya bahkan sudah didistribusikan ke sejumlah daerah .
Inilah yang dalam terminologi klasik disebut fait accompli—sebuah fakta yang diciptakan di lapangan untuk memaksa realitas politik menyesuaikan diri. Sementara para pejabat sibuk berwacana di gedung-gedung ber-AC, kapal-kapal pengangkut mobil dari India telah membongkar muatannya. Dan kita semua hanya bisa bertanya: bagaimana mungkin?



Tinggalkan Balasan