Antara Retorika “Manut” dan Realitas Kontraktual
Yang paling menarik dari drama ini adalah sikap Joao yang berulang kali menyatakan, “Kami manut. Apa pun keputusan negara, keputusan DPR, saya akan taat, loyal, dan manut”.
Di permukaan, ini adalah sikap patriotik seorang direktur BUMN. Namun dalam analisis materialisme dialektis, pernyataan “manut” ini justru mengungkap kontradiksi yang dalam antara struktur komando politik dan realitas kontraktual.
Jika Joao benar-benar “manut” pada keputusan negara, mengapa ia menandatangani kontrak raksasa itu tanpa menunggu arahan dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Koperasi? Mengapa ia tidak berkoordinasi dengan dua menteri teknis yang sama sekali tidak mengetahui proyek ini ?
Jawabannya terletak pada Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025 . Inpres ini memberi mandat kepada Agrinas untuk membangun gerai dan menyediakan sarana prasarana, termasuk armada distribusi. Dengan Inpres di tangan, Joao bergerak cepat. Ia menginterpretasikan mandat politik sebagai perintah untuk segera bertindak, tanpa perlu menunggu koordinasi teknis.





Tinggalkan Balasan