Oleh : Agung Hermanus Riwu, S.Pd.
Sekretaris Forum TBM NTT

Tulisan ini merupakan upaya membenahi akal yang longsor dan pemikiran yang hancur ketika memahami secara sempit program OSOP yang mulai dikembangkan di NTT. Bencana logika itu terjadi bukan karena hujan deras atau angin kencang yang baru-baru ini melanda NTT, melainkan karena akal dan pemikiran dibangun tanpa landasan teori pendidikan yang kokoh. Sebagai contoh, tulisan dengan judul, “Pak Gub, Dunia Pendidikan NTT Mau dibawa ke Mana? (Sebuah Catatan Lepas Program OSOP NTT),” yang ditulis sahabat kami Gusti Rikarno.

Program OSOP (One School One Product) di NTT adalah program yang digagas oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NTT dengan mengintegrasikan pendidikan dengan keterampilan vokasional dan kewirausahaan. Program ini bertujuan untuk membentuk karakter produktif, mandiri, dan kreatif pada murid, serta memperkuat pembelajaran berbasis praktik dan potensi lokal. 

Jika muncul pertanyaan, Pak Gub dunia pendidikan NTT mau dibawa ke mana ? Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sebetulnya sedang menjalankan pemikiran John Dewey, ahli pendidikan Amerika yang menekankan pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman serta integrasi antara teori dan praktik.  “Learning by Doing” atau “Belajar dengan Berbuat” adalah cara yang paling efektif untuk mencapai pembelajaran yang bermakna. Murid harus berkarya dalam proses pembelajaran, bukan hanya menerima informasi secara pasif.

Bisa Jadi, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sedang mengarahkan para kepala sekolah yang katanya sedang gelisah, galau, bingung di persimpangan, untuk segera memutar layar perahu pemikiran supaya lurus dengan teori taksonomi Bloom sabagai kerangka kerja untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan dan proses belajar mulai dari level 1 mengingat, level 2 memahami, level 3 mengaplikasi, level 4 menganalisis, level 5 mengevaluasi, dan level 6 mencipta. Dalam konteks OSOP, murid diarahkan untuk mencapai level C6, yaitu menciptakan inovasi dan produk baru yang relevan dengan potensi lokal dan kebutuhan masyarakat.