OSOP adalah Produk Literasi
Bencana dalam dunia pendidikan NTT dimulai ketika literasi hanya dimengerti sebatas pelatihan menulis, menerbitkan buku, atau membuat mading. Buku dianggap satu-satunya produk literasi. Seolah-olah sekolah yang maju literasinya adalah sekolah yang melaksanakan pelatihan menulis dan menerbitkan buku. Coba jujur, Komunitas literasi yang selama ini katanya paling setia menangkap (mendeteksi) senyum, tawa dan getaran hati para guru dan kepala sekolah, juga mengklaim sudah menyentuh belasan ribu guru dan murid, bagaimana raport mutu pendidikan di sekolah-sekolah tersebut ? Hasil TKA anak-anak yang dilatih tahun kemarin ? Menarik jika ada peneliti masuk ke sekolah-sekolah yang rutin mengadakan pelatihan menulis, mengkaji apakah nilai Asesmen Nasional di bidang literasi, numerasi atau TKA melebihi rata-rata nasional, atau menimal melebihi sekolah-sekolah yang tidak pernah mengundang komunitas menulis ?
Literasi berasal dari bahasa Latin “litteratus” yang berarti “orang yang belajar” atau “orang yang memiliki pengetahuan.” Dengan mengintegrasikan lintas disiplin ilmu, OSOP merupakan produk literasi yang dapat membantu peserta didik membangun kemampuan yang diperlukan untuk sukses di abad ke-21.



Tinggalkan Balasan