Kalangan akademisi seperti Raul Roja Gonzalez, seorang pofesor emeritus bidang teknologi inteligensia artifisial dan sahabatnya sosiolog Claudia Maldonado Graus dari Universitas Libre Berlin pun turut ikut prihatin dengan pertumbuhan kecerdasan buatan yang semakin masif akhir-akhir ini. Dalam diskusi di televisi DW bertajuk Inteligencia Artificial: Control Sobre El Ser Humano? Raul mengatakan bahwa AI bisa mengganti semua pekerjaan manual yang biasa dilakukan oleh para wartawan. Kecemasan Raul ini didukung oleh fakta yang ditayangkan oleh DW bahwa AI bisa memanipulasi foto-foto palsu yang persis sama dengan foto asli manusia seperti yang pernah terjadi dengan Paus Fransiskus, Presiden Vladimir Putin dan Donald Trump, memanipulasi suara manusia dan menulis buku.
Sementara itu, sosiolog Claudia menegaskan bahwa bahaya dari AI itu sama dengan bom atom. Menurutnya, bom atom masih bisa dikontrol dari dalam laboratorium, namun AI dikontrol oleh setiap orang dari komputernya masing-masing. Baginya, AI lebih berbahaya dari bom atom sebab ia bisa mengutak-atik data dan privasi kita. AI bisa menggantikan posisi kaum buruh dan pekerja-pekerja di dalam perusahaan-perusahaan dan di kantor-kantor. Ini bisa menimbulkan khaos di masyarakat. AI bisa menciptakan disinformasi seperti penyebaran berita bohong dan propaganda politik. Dalam konteks demokrasi dan politik, menurut Claudia orang bisa menggunakan AI untuk memanipuasi sebuah hasil pemilihan umum dan sebuah rezim otoriter bisa menggunakan AI sebagai alat untuk menganiaya atau membungkam kaum oposisi sebuah rezim.





Tinggalkan Balasan