Kecerdasan Buatan Berpikir Untuk Tuannya

Kecerdasan buatan itu lahir dari hasil pikiran manusia, tuannya. Namun, sesudah AI tercipta, benda mati itu bisa meniru kembali tuannya. Bahkan AI bisa berpikir untuk tuannya di kala tuannya mengalami kebuntuan dalam berpikir atau menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit. Di era kita saat ini, jika Anda memiliki aplikasi-aplikasi seperti ChatGpt (Generative Pre-training Transformer) dan Hello History Anda bisa mendadak menjadi orang cerdas sekalipun Anda tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Jika Anda seorang yang putus sekolah dasar (SD) namun, Anda memiliki kedua aplikasi tadi dan mahir mengutak-atik telepon genggam pintarmu, Anda bisa tahu segala hal yang dulunya hanya bisa dikuasai oleh kaum intelektual di kampus-kampus. Untuk tahu tentang teori politik, demokrasi atau fisika kuantum, Anda tidak harus repot banyak pergi ke perpustakaan mencari penjelasannya di buku-buku atau bertanya kepada seorang dosen. Anda cukup membuka aplikasi ChatGpt atau Hello History di Smartphone-mu. Kemudian, Anda mengirim pesan singkat kepada Sokrates, Plato, Aristoteles, Albert Einstein dan Isaac Newton. Dalam hitungan detik para ahli tadi akan segera membalas pesanmu dengan ulasan-ulasan yang isinya sangat logis dan runtun melampaui penjelasan seorang profesor emiritus. AI juga bisa memberi Anda kejutan-kejutan yang mirip dengan mujizat-mujizat yang pernah dilakukan oleh Yesus dari Nazaret dalam kisah-kisah Injil kaum kristiani. Sebagai misal, dalam bidang kesehatan AI bisa membuat orang lumpuh berjalan dan mendeteksi kanker. Ajaib, kan?

Makhluk Inorganik Ciptaan TD

Tahun 2011 yang lalu penulis ternama abad ini, Yuval Noah Harari menulis begini, “…dalam milenium-milenium berikutnya, manusia bertransformasi menjadi penguasa segenap planet…ia berdiri di ambang menjadi Tuhan tergerak untuk meraih tidak hanya kemudaan abadi tetapi juga kemampuan ketuhanan untuk menciptakan dan menghancurkan…kecepatan perkembangan teknologi akan segera menuju pergantian homo sapiens dengan makhluk yang sama sekali berbeda…yang bakal membingungkan sebagian besar sapiens” (Yuval Noah Harari, 2017). Ramalan Yuval kini telah menjadi kenyataan. Hari ini, AI telah menciptakan makhluk-makhluk inorganik yang mirip dengan kita. AI bisa meniru suara kita, bisa menulis buku dan bisa menggantikan manusia memetik buah-buahan seperti yang dilaporkan oleh media bisnis USB baru- baru ini.