Begitulah evolusi teknologi bekerja. Prosesnya berjalan sekilat cahaya dan hasilnya sangat menakjubkan seperti yang sedang kita lihat dan menikmati saat ini. Pengaruhnya sangat kuat dan merembes jauh ke seluruh aspek kehidupan manusia di abad ini. AI benar-benar sangat menakjubkan. Ini semua terjadi berkat kejeniusan aplikasi akal budi yang terpasang di dalam kepala manusia. Siapakah orang yang memasang akal budi di dalam kepala kita? Para pemuka agama bisa memberi kita jawaban yang sangat meyakinkan. Kita mesti bangga dan berterima kasih kepada mereka yang telah mendedikasikan seluruh pikiran, waktu dan tenaga untuk menciptakan teknologi-teknologi canggih tersebut.
Tuhan Buatan Tangan Manusia
TD sudah menjadi bagian integral dari kehidupan kita saat ini. Seorang wartawan atau pegawai kantor akan merasa sangat galau atau cemas, jika ia tiba di kantornya tanpa Smartphone di saku celana atau tasnya. Kehilangan sebuah Smartphone di abad 21 ini sama dengan kehilangan separuh jiwa kita sebab di dalamnya tersimpan data-data kita. Kini, sebagian orang di planet bumi ini telah menganggap teknologi digital sebagai teman hidup yang paling dekat. Ke mana pun orang pergi TD selalu dibawa serta. Ya, itu tadi karena denganya kita bisa melakukan hal-hal baru yang tidak mungkin kita lakukan pada abad-abad yang lalu.
Homo sapiens saat ini sangat mengagumi TD bahkan sudah sampai pada tingkat menyembahnya. Ia menyembah apa yang dia rancang sendiri dengan jari-jarinya sebagaimana leluhur kaum Yahudi menyembah sebuah patung lembu emas buatan tangan Harun di perkemahan mereka di bawah kaki gunung Sinai. Filsuf ateis Ludwig Feurbach (1804-1872) pernah mengeritik keras sikap manusia yang menyembah hasil ciptaannya sendiri. Dia menulis bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-agan manusia (Franz M. Suseno, 2017). AI kini telah menjadi tuhan bagi penciptanya, yaitu manusia.
Kecemasan Manusia Pada Ciptaannya
Berkat kekuatan akal budi hari ini homo sapiens telah berhasil menciptakan TD. Manfaatnya sangat besar bagi kehidupan umat manusia. Namun demikian, akhir-akhir ini manusia mulai merasa cemas dengan AI hasil karya tangannya sendiri. Penyalagunaan mesin-mesin digital cerdas telah melahirkan dampak-dampak negatif bagi masyarakat. Cerita ini hampir mirip dengan kisah Tuhan menyesal telah menciptakan manusia sebab mereka banyak melakukan kejahatan di bumi.







Tinggalkan Balasan