Sementara itu, pada generasi kita saat ini, barang-barang yang selalu melekat pada tangan-tangan kita ialah Smartphone, iPad, laptop atau kamera drone. Alat-alat ini membantu kita dalam berbagai aktivitas dalam rutinitas hidup kita. Namun, barang-barang digital ini tidak seperti teknologi kampung milik para leluhur kita pada masa lampau. TD mempunyai algoritma, yaitu serangkaian instruksi di dalamnya. Kita mesti mentaati algoritma itu apapun alasannya, jika Anda ingin sukses. Namun, jika Anda tidak menuruti algoritmanya, maka Anda tidak akan dibantu olehnya. Kelihatannya hari ini, kita tidak memiliki problem sedikitpun untuk tidak mentaati algoritma TD. Kita cukup patuh dan adaptif dengan instruksi-instruksi TD. Hidup kita kini betul-betul terkoneksi dengan sistem algoritma TD dan kita sedang bekerja berdasarkan instruksi-instruksinya.

Kecerdasan Buatan Berpikir Untuk Tuannya

Kecerdasan buatan itu lahir dari hasil pikiran manusia, tuannya. Namun, sesudah AI tercipta, benda mati itu bisa meniru kembali tuannya. Bahkan AI bisa berpikir untuk tuannya di kala tuannya mengalami kebuntuan dalam berpikir atau menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit. Di era kita saat ini, jika Anda memiliki aplikasi-aplikasi seperti ChatGpt (Generative Pre-training Transformer) dan Hello History Anda bisa mendadak menjadi orang cerdas sekalipun Anda tidak pernah mengenyam pendidikan formal.