Tuhan Buatan Tangan Manusia

TD sudah menjadi bagian integral dari kehidupan kita saat ini. Seorang wartawan atau pegawai kantor akan merasa sangat galau atau cemas, jika ia tiba di kantornya tanpa Smartphone di saku celana atau tasnya. Kehilangan sebuah Smartphone di abad 21 ini sama dengan kehilangan separuh jiwa kita sebab di dalamnya tersimpan data-data kita. Kini, sebagian orang di planet bumi ini telah menganggap teknologi digital sebagai teman hidup yang paling dekat. Ke mana pun orang pergi TD selalu dibawa serta. Ya, itu tadi karena denganya kita bisa melakukan hal-hal baru yang tidak mungkin kita lakukan pada abad-abad yang lalu.

Homo sapiens saat ini sangat mengagumi TD bahkan sudah sampai pada tingkat menyembahnya. Ia menyembah apa yang dia rancang sendiri dengan jari-jarinya sebagaimana leluhur kaum Yahudi menyembah sebuah patung lembu emas buatan tangan Harun di perkemahan mereka di bawah kaki gunung Sinai. Filsuf ateis Ludwig Feurbach (1804-1872) pernah mengeritik keras sikap manusia yang menyembah hasil ciptaannya sendiri. Dia menulis bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-agan manusia (Franz M. Suseno, 2017). AI kini telah menjadi tuhan bagi penciptanya, yaitu manusia.