Manusia Tuan Atas Ciptaannya

Berpapasan dengan kecemasan manusia atas dampak-dampak destruktif yang ditimbulkan oleh AI, Paul Valery dalam karya Modernidad Líquida (Zygmunt Bauman, 2000) mengajukan pertanyaan berikut. Bisakah pikiran manusia mampu menguasai apa yang telah diciptakan olehnya? Tak seorang pun ingin apa yang telah dia ciptakan menjadi tuan bagi dirinya. Manusia adalah tuan atas segala ciptaannya. Ia memiliki kuasa mutlak untuk menguasai apa yang telah dia buat dengan jari-jarinya sendiri. Karena itu, tentu saja pikiran homo sapiens bisa mengontrol AI, hasil karya tangannya sendiri.

Caranya ialah sebagai berikut. Pertama, menguasai diri sendiri dan tidak membiarkan diri dikuasai atau dikontrol oleh sesuatu yang telah kita buat dengan tangan kita sendiri. Namun, Thomas Hobbes (1588-1679) menulis bahwa secara alamiah kita manusia adalah makhluk yang egois, kejam dan suka bersaing demi menggapai kepentingannya masing-masing. Karena itu, kita butuh sebuah kontrak sosial, yaitu regulasi-regulasi yang ketat untuk mengontrol cara-cara kita dalam penggunaan AI. Kedua, perlunya peningkatkan kesadaran moral, etika dan edukasi yang komprehensip tentang penggunaan AI secara bertanggung jawab. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor seperti pemerintah, legislatif, tokoh agama, organisasi-organisasi lokal dan internasional, akademisi dan kelompok masyarakat sipil. Dengan demikian, setiap orang dapat menggunakan AI secara bertanggung jawab dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Jika ini bakal terjadi, maka kehadiran AI bukan merupakan sebuah petaka melainkan berkat bagi masa depan umat manusia.

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi dan Perubahan Sosial pada Universidad Católica de Concepción, Chile, Amerika Latin.