Dalam dunia pendidikan kehadiran AI memang memberi manfaat yang sangat signifikan. Namun, di lain pihak AI (ChatGpt atau Hello History) bisa menjerumuskan mahasiswa dan anak-anak sekolah ke dalam konsekuensi-konsekuensi berikut. Pertama, menciptakan ketergantungan para siswa kepada AI. Hal ini bisa membuat orang (malas) tidak lagi membaca buku atau belajar. Sebab AI akan berpikir untuk kita atau dalam kasus ujian AI akan menjawab secara tuntas dan lugas pertanyaan-pertanyaan ujian yang disodorkan oleh guru dalam hitungan detik. Kedua, akan menimbulkan praktik plagiarsme di dunia pendidikan. Ketiga, kita tidak tahu pasti informasi-informasi yang diberikan oleh AI diambil dari sumber buku apa. Keempat, tidak selamanya AI bisa memberikan informasi atau pengetahuan yang kita butuhkan secara tepat.  

Jadi, bisa diprediksi bahwa konsekuensi destruktif yang mungkin bakal terjadi di masa depan akibat AI adalah sebagai berikut. Pertama, AI bisa menggantikan posisi manusia dalam dunia kerja. Banyak orang akan kehilangan pekerjaan dan penghasilannya. Resikonya ialah akan muncul kekacauan di tengah masyarakat. Kedua, angka orang masuk dunia pendidikan akan semakin menurun, sebab semua ilmu pengetahuan telah disiapkan oleh AI dalam bentuk aplikasi-aplikasi. Resikonya ialah sekolah-sekolah dan universitas-universitas bisa ditutup. Ketiga, produksi disinformasi (hoax) di media sosial akan semakin liar dan tak terkontrol. Keempat, dalam demokrasi orang bisa saja memanipulasi sebuah hasil pemilihan umum dan dalam sebuah rezim otoriter AI bisa dipakai sebagai alat untuk menggebuk suara-suara kritis.