Melyanthon menyampaikan, ada sebanyak enam ruangan yang dibangun baru dalam proyek merah putih namun semua dalam kondisi rusak, bahkan saat berada di sekolah tersebut, tampak dua tukang sementara melakukan perbaikan pintu WC dan bak yang tidak dapat menampung air alias bocor.

“Bapak, ibu wartawan bisa lihat sendiri, pintu wc dan bak bocor sementara perbaiki, tukang sementara kerja, saya pakai dana BOS,” tambah Melyanthon sambil menunjukkan kondisi wc yang dalam perbaikan.

Bahkan lantainya juga, kata Melyanthon dilakukan perbaikan dengan memakai dana BOS. Mereka juga meminta sumbangan dari orangtua murid untuk perbaikan agar bisa digunakan meski masih terdapat sejumlah kerusakan yang belum dibenahi antara lain, tembok retak, pintu ruangan renggang tidak dapat di tutup atau di kunci, pagar, gapura, bak air dan tower tak dapat menampung air, saluran air tidak berfungsi menyebabkan air tergenang, jalan masuk/rabat rusak berat, instalasi listrik koslet dan cat tembok terkelupas.

Demikian pula dengan kepala sekolah SD Inpres Holotula, Orias Loweni juga mengeluarkan surat pemberitahuan nomor 420/073/SDI.H.17/2022 menyatakan, dirinya tidak bersedia menandatangani berita acara penyerahan pekerjaan pembangunan gedung SDI Holotula karena alasan masih terdapat kerusakan pada pembangunan ruang gedung sekolah, bagian tembok semua ruang dan lantai retak-retah (pecah) yang kerusakannya cukup parah dengan foto terlampir, ada 4 ruang wc yang bak penampung airnya tidak menampung air (pecah).