Demikian pula dengan kepala sekolah SD Inpres Holotula, Orias Loweni juga mengeluarkan surat pemberitahuan nomor 420/073/SDI.H.17/2022 menyatakan, dirinya tidak bersedia menandatangani berita acara penyerahan pekerjaan pembangunan gedung SDI Holotula karena alasan masih terdapat kerusakan pada pembangunan ruang gedung sekolah, bagian tembok semua ruang dan lantai retak-retah (pecah) yang kerusakannya cukup parah dengan foto terlampir, ada 4 ruang wc yang bak penampung airnya tidak menampung air (pecah).
Kepsek SD Holotula, Orias Loweni saat ingin dikonfirmasi telah purnabakti dan saat dicoba untuk dihubungi hingga saat ini tidak dapat dikonfirmasi, namun saat tim KJI mendatangi sekolah tersebut yang kini dijabat oleh Melkianus Langga tidak berada di tempat, salah satu guru yang enggan disebut namanya mengatakan,” Kepsek sedang tidak ada di tempat, jika terkait sekolah nanti bicara saja ke Dinas karena ini kepsek yang baru.”
Kerusakan dan kondisi bangunan baru yang rusak sebelum dipakai juga terjadi di SD Papela yang terletak di Dusun Anlaso Desa Londalusi, Kecamatan Rote Timur Kabupaten Rote-Ndao
Sekolah yang sudah dibangun sejak tahun 1956 ini juga kebagian proyek renovasi dan rehabilitasi. Sang kepala sekolah, Istini S.Pd., saat ditemui di sekolahnya, Kamis, 4 april 2024 lalu, mengakui kalau ada gedung lama yang sudah rusak dibongkar dan diganti dengan pembangunan satu gedung baru untuk dua ruang kelas. Bangunan barupun sudah rusak karena tembok retak dan cat terkelupas, kondisi lapangan yang dibangun tidak rata, bak kamar mandi bocor padahal memakai keramik. bak air bocor dan rembes. Saat musim hujan, air akan merembes karena bak rata dengan permukaan tanah sehingga air menjadi keruh pada musim hujan serta berlumpur. Beberapa bagian tembok pun sudah retak padahal belum dilakukan serah terima. “Bangunan barupun sudah rusak karena tembok retak dan cat terkelupas, kondisi lapangan yang dibangun tidak rata, bak kamar mandi bocor dan bak penampung air juga bocor dan rembes,” kisah Istini.







Tinggalkan Balasan