“Apakah Anda mengira para profesor sejarah berbincang tentang alasan Perang Dunia Pertama ketika bertemu untuk makan siang, atau para ahli fisika nuklir menghabiskan waktu rehat minum kopi dalam konferensi saintifik untuk membicarakan tentang partikel-partikel atom? Terkadang ya. Namun, lebih sering mereka bergosip tentang profesor yang memerogoki suaminya berselingkuh, pertengkaran antara ketua jurusan dan dekan atau rumor-rumor bahwa seorang kolega menggunakan dana riset untuk membeli Lexus…” (Yuval N.H, 2017: 27).

Jangan-jangan para profesor kita masuk dalam frase Harari di atas? Bisa saja demikian. Mungkin saja jauh sebelum terkena OTT Prof. Karomani dan para anak buahnya sering bergosip tentang cara menambah penghasilan tambahan dengan memeras mahasiswa baru jalur mandiri. Mungkin pula Prof. Karomani berpikir bahwa tindakannya tak akan mendatangkan kensekuensi hukum seperti yang sedang menimpah dirinya saat ini. Ah, sungguh sial! Nafsu dan kecintaan yang berlebihan terhadap uang tenyata membuat seorang profesor benar-benar kehilangan waktu untuk berpikir tajam dalam menganalisa resiko fatal di kemudian hari. Akibatnya Prof. Karomani dan para anak buahnya terjun bebas ke dalam kubangan irasionalitas dan immoral.