Gosip Para Profesor
Kecintaan Prof. Karomani yang berlebihan kepada uang membuat nalar kritisnya meredup drastis dan kehilangan waktu untuk membaca, merenung, berpikir dan mendalami soal-soal ilmiah yang adalah dunianya. Hal semacam ini bisa menyepak seorang akademisi ke dalam dunia gosip (obrolan kosong tentang urusan pribadi) yang tidak bermutu. Tentang gosip kaum akademisi ini penulis Yahudi Yuval Noah Harari dalam bukunya berjudul Sapiens menulis demikian:
“Apakah Anda mengira para profesor sejarah berbincang tentang alasan Perang Dunia Pertama ketika bertemu untuk makan siang, atau para ahli fisika nuklir menghabiskan waktu rehat minum kopi dalam konferensi saintifik untuk membicarakan tentang partikel-partikel atom? Terkadang ya. Namun, lebih sering mereka bergosip tentang profesor yang memerogoki suaminya berselingkuh, pertengkaran antara ketua jurusan dan dekan atau rumor-rumor bahwa seorang kolega menggunakan dana riset untuk membeli Lexus…” (Yuval N.H, 2017: 27).
Jangan-jangan para profesor kita masuk dalam frase Harari di atas? Bisa saja demikian. Mungkin saja jauh sebelum terkena OTT Prof. Karomani dan para anak buahnya sering bergosip tentang cara menambah penghasilan tambahan dengan memeras mahasiswa baru jalur mandiri. Mungkin pula Prof. Karomani berpikir bahwa tindakannya tak akan mendatangkan kensekuensi hukum seperti yang sedang menimpah dirinya saat ini. Ah, sungguh sial! Nafsu dan kecintaan yang berlebihan terhadap uang tenyata membuat seorang profesor benar-benar kehilangan waktu untuk berpikir tajam dalam menganalisa resiko fatal di kemudian hari. Akibatnya Prof. Karomani dan para anak buahnya terjun bebas ke dalam kubangan irasionalitas dan immoral.
Ketiadaan Kebaikan
Pertanyaan yang mesti diajukan di sini ialah mengapa seorang profesor, agen ilmu pengetahuan dan moral terjebak dalam praktik korupsi? Dalam kajian moral Thomas Aquino kita bisa menemukan salah satu jawabannya, yaitu ketidakhadiran kebaikan (absence of goodness). Absennya kebaikan dalam diri bisa merusak tabiat dan mental seseorang serta membuat siapa saja, termasuk sang profesor sekalipun akan bertindak di luar penalaran moral. Dalam kasus Rektor Karomani, ketika sang profesor memutuskan untuk menetapkan jumlah uang suap dari para mahasiswa barunya, di saat itu pula beliau mematikan tombol kebaikan dalam dirinya lalu mengaktifkan tombol keserakahan. Maka, lahirlah keinginan untuk memeras mahasiswa baru jalur mandiri. Nah, kejadian seperti ini bisa menimbulkan seribu satu pertanyaan publik bahwa jangan sampai titel akademik profesor dan jabatan mentereng (rektor) yang melekat pada diri Prof. Karomani adalah hasil suap pejabat kampus dan penguasa di dalam Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Mungkin saja.







Tinggalkan Balasan