Teknologi yang digunakan adalah memasang turbin dengan digantung di badan jembatan dengan model seperti “laci meja” yang untuk pemeliharannya bisa dimasukkan dan di keluarkan dari bawah kolong jembatan.
Panjang jembatan adalah 800 meter terdiri dari 250 meter arah Larantuka dan 150 meter arah Adonara adalah Jembatan Sipil (civil Bridge) sedangkan 400 meter di tengah tengah jembatan adalah Jembatan Tidal (Tidal Bridge) dimana di segmen 400 meter ini lah, turbin akan digantungkan untuk menghasilkan energi listrik.
“Khusus untuk potensi arus laut di selat sempit Larantuka (selat Gonzalo), menurut BPPT (sekarang BRIN) potensi arus laut di selat ini bisa menghasilkan 300 MW. Dan untuk tahap awal PT. Tidal Bridge akan membangun power plant dengan kapasitas 40 MW yang dibangun secara modular, artinya akan bisa dikembangkan duplikasinya sesuai dengan perkembangan kebutuhan listrik di pulau Flores – Adonara dan sekitarnya,” terangnya.
Latief menambahkan, biaya untuk membangun jembatan dan PLTAL ini diperkirakan sekitar $ US 225 jt (Rp. 3T) yang semuanya dibiayai oleh Bank Pembangunan Belanda (FMO/Nederlandse Financierings -Maatschappij voor Ontwikkelingslanden N.V), dalam bentuk Loan atau pinjaman lunak dengan durasi pinjaman selama 20 tahun.





Tinggalkan Balasan