Festival Leva Nuang tidak lebih dari bentuk banalisasi pemerintah terhadap masyarakat adat Lamalera dan keberlangsungan Leva Nuang yang menjadi roh dan spirit masyarakat adat Lamalera.
Festival Leva Nuang; Cermin Kebijakan Tak Menjawab
Pada abad ke-18 ketika dunia Eropa memasuki abad pencerahan, nama Horatius menggema keras karena kutipan karyanya, “Beranilah berpikir. Beranilah menjadi bijak.” (Epistulae II:40)
Berkaca dari pikiran Horatius tersebut dan merujuk pada kebijakan pemerintah Kabupaten Lembata mengadakan Festival Leva Nuang ketika masyarakat adat Lamalera lebih membutuhkan infrastruktur jalan raya, ketersediaan air bersih, dll. maka pantas kita katakan pemerintah tidak berani berpikir dan menjadi bijak.
Pikiran dan hati pemerintah, seakan menjadi gelap. Rasio sebagai kekuatan dan cahaya menepis kegelapan ilusi, tidak berjalan dengan baik. Buktinya realitas yang terjadi di masyarakat adat Lamalera bertahun-tahun, tidak tersentuh oleh kebijakan-kebijakan yang menguntungkan.
Langkah pemerintah mengadakan Festival Leva Nuang, lebih dipengaruhi oleh kegelapan ilusi dari kepentingan pemerintah sendiri, tanpa melihat urgensi substantif realitas masyarakat adat Lamalera. Kebijakan Festival Leva Nuang jauh melangkahi permintaan masyarakat adat Lamalera dan tidak menjawab sama sekali.





Tinggalkan Balasan