Kearifan lokal Leva Nuang yang lahir sebagai sesuatu yang identik dengan pola interaksi sosial maha luhur yang menjadi pedoman atau hal baik yang harus dijaga, dirawat dan tetap dijalankan dari generasi ke generasi masyarakat Lamalera, oleh pemerintah diusahakan berevolusi menjadi suatu pola hidup baru yang adaptif terhadap segala perubahan yang masuk dan berdampingan membentuk akulturasi budaya baru.
Hari ini kita kenal dan menyaksikan tradisi Leva Nuang dalam konsep kearifan lokal yang hidup, tetapi besok jika kita membiarkan Leva Nuang dikemas dalam cover Festival, maka hari setelah besok kita akan menyaksikan kepunahan tradisi Leva Nuang dalam diksi dahulu atau pernah.
Kita perlu menguliti secara terang benderang Festival Leva Nuang sebagai bentuk eksploitasi terhadap kearifan lokal budaya Leva Nuang yang sudah mentradisi. Ini adalah bentuk propaganda pemerintah yang sangat memungkinkan ada kepentingan tersirat yang diagendakan dalam kemasan diksi Festival.
Pemerintah harus jujur bahwa hal utama yang dibutuhkan oleh masyarakat adat Lamalera adalah infrastruktur jalan raya yang layak, pemenuhan kebutuhan air bersih, akses komunikasi dan jaringan internet, fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai, tenaga pendidik yang berkompeten dan bukan Festival yang kontradiktif dan berdampak negatif pada keberlangsungan tradisi Leva Nuang.
Sangat disayangkan, tradisi yang sudah menjadi keunikan masyarakat adat Lamalera pelan akan mengalami suatu perubahan yang berdampak langsung pada pola interaksi sosial budaya dari masyarakat adat Lamalera itu sendiri.
Festival Leva Nuang tidak lebih dari bentuk banalisasi pemerintah terhadap masyarakat adat Lamalera dan keberlangsungan Leva Nuang yang menjadi roh dan spirit masyarakat adat Lamalera.
Festival Leva Nuang; Cermin Kebijakan Tak Menjawab
Pada abad ke-18 ketika dunia Eropa memasuki abad pencerahan, nama Horatius menggema keras karena kutipan karyanya, “Beranilah berpikir. Beranilah menjadi bijak.” (Epistulae II:40)
Berkaca dari pikiran Horatius tersebut dan merujuk pada kebijakan pemerintah Kabupaten Lembata mengadakan Festival Leva Nuang ketika masyarakat adat Lamalera lebih membutuhkan infrastruktur jalan raya, ketersediaan air bersih, dll. maka pantas kita katakan pemerintah tidak berani berpikir dan menjadi bijak.







Tinggalkan Balasan