Pemerintah harus memberi pemahaman bahwa kegiatan Festival Leva Nuang tidak akan merusak tatanan ritual yang ada karena akan menyesuaikan bentuk, tempat dan waktu kegiatan mengikuti tata cara ritual sakral Leva Nuang.

‘Waktu’ menjadi inti dari persoalan yang harus diurai lewat pendekatan dialogis persuasi yang humanistik, bila menarik benang merah alasan penolakan Festival Leva Nuang. Festival Leva Nuang bisa diadakan pada bulan-bulan sebelum dimulainya ritual Leva Nuang (Januari sampai pertengahan April) atau pada bulan-bulan sesudah periode Leva Nuang yang sakral itu (November sampai pertengahan Desember).

Artinya pemerintah harus terlebih dahulu mengkaji dampak terhadap keberlangsungan Leva Nuang secara lengkap apabila Festival Leva Nuang diadakan bersamaan dengan ritual sakral Leva Nuang, karena bagaimanapun kita sama-sama mencintai sakralitas Leva Nuang sebagai warisan leluhur yang harus dijaga dari generasi ke generasi.

“In necessariis unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas.” – Mgr Soegija(*)