Ketika itu, orang tersebut bukannya lari atau menghindar. Ia malah diam di tempat sambil berteriak seakan-akan memang ingin ditabrak, sehingga adegan selanjutnya pun bisa ditebak. Hal ini selalu terjadi di setiap adegan serupa. Selain itu, penggambaran tokoh yang monoton, yaitu tokoh utama dalam sinetron atau tokoh protagonis biasanya digambarkan sebagai seorang yang baik hati, tidak sombong dan tokoh antagonis biasanya digambarkan sebagai serang yang jahat yang bisa menculik, membunuh orang lain atau gemar menyiksa.
Tentu, kritik-kritik yang disampaikan selain bermuarah pada produsen sinetron dan menyasar Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), tetapi kritik juga sesungguhnya tepat bermuarah pada masyarakat sebagai penikmat sinetron. Sebenarnya, masyarakat yang mau mempertahankan kondisi yang ‘mengganggu’ kehidupan baiknya dengan antusias menonton sinetron.
Karena itu, kita yang hidup dalam era perkembangan modern harus lebih kritis dalam memilih tontonan. Tidak lupa kita sebagai makhluk sosial jangan menyudutkan tayangan yang dianggap merusak tanpa tahu siapa hal positif yang ada di balik media tersebut.
Kondisi tersebut juga menjadi perhatian pemerintah. Jangan sampai, pemerintah membayar murah guru dengan tuntutan besar memperbaiki karakter dan akhlak anak-anak; sedangkan artis sinetron dibayar mahal untuk merusak akhklak anak-anak. ***



Tinggalkan Balasan