Lebih dari itu, masyarakat Indonesia terobsesi dengan sinema elektronik atau yang dikenal dengan sinetron yang ditayangkan secara periodik oleh televisi-televisi swasta di Indonesia. Ketika jam tayang sinetron kesukaan, tentu semua pekerjaan ditahan setelah selesai tayangan sinetron. Bahkan ketika sinetron kesukaan mulai tayang, tidak sedikit anak-anak, remaja, dan kaum ibu mulai menguasai televisi dan remote di rumah; ibu kita belum bisa masak buat makan malam, jam belajar dipindahkan ke larut malam, dan masih banyak perubahan kehidupan akibat tayangan sinetron Indonesia.
Dalam perkembangan, sinetron Indonesia mengalami perubahan konten yang lebih mengarah pada aspek-aspek ‘negatif’. Judul sinetron seringkali bertema negatif dan vulgar; adegannya banyak mengandung unsur kekerasan/perundungan; pemain sinetron masih berusia anak-anak sedangkan peran yang dimainkan aktor remaja seringkali berlawanan dengan norma pergaulan masyarakat dan tidak sesuai dengan perkembangan psikologi anak; serta adegan dalam sinetron seringkali mengesampingkan adat dan norma yang berlaku di masyarakat Indonesia (Oetomo, 2012; Astuti, 2010).



Tinggalkan Balasan