Saya mengamati bahwa sinetron Indonesia memiliki pola khas, yaitu jika rating sinetron naik, maka sinetron tersebut akan diperpanjang hingga ratingnya turun. Hal ini yang membuat jalan cerita sebuah sinetron seringkali dipaksakan dan kisahnya berlarut-larut. Kita dapat melihat sendiri perubahan jadwal tayangannya di televisi. Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan dunia pertelevisian bersifat mencari keuntungan, tanpa mempertimbangkan nilai moral, kelogisan adegan, dan kreativitas.
Sisi lain, tidak dapat dimungkiri bahwa anak-anak, remaja, dan perempuan merupakan kelompok yang paling rentan terdampak pengaruh buruk tayangan sinetron, sekaligus sebagai korban karena dianggap sebagai kelompok kelas dua (Ezeifeka, 2013). Secara khusus, perempuan ditempatkan pada posisi lemah, rentan, dan seringkali dikaitkan dengan seksualitas dalam sinetron (Chen and Machin, 2014; Antony, 2017). Seksualitas seringkali ditampilkan melalui gambar tubuh dan ekspresi perempuan (Beale and Malson, 2016). Bahkan, dalam sinetron, perempuan diposisikan sebagai pemeran utama dalam ranah domestik dan pengasuhan anak.



Tinggalkan Balasan