Sesungguhnya, sebagian besar sinetron Indonesia tidak mendidik. Hal ini berkebalikan dengan prinsip pemasaran bisnis pertelevisian, yaitu sinetron yang memiliki rating tertinggi adalah sinetron yang menawarkan cerita dan adegan yang justru bertentangan dengan adat dan norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Artinya, dominasi bisnis pertelevisian terhadap konten tayangan sinetron yang dianggap tidak mendidik dan seringkali mengabaikan norma masyarakat yang berlaku di Indonesia. Sinetron Indonesia seringkali mengisahkan tentang kisah asmara remaja dan drama rumah tangga. Kisah asmara remaja diwarnai dengan pergaulan yang hedonistik, kemewahan hidup, percintaan romantis, perkelahian seperti contoh tayangan sinetron berjudul “Ganteng-Ganteng Serigala” dan “Anak Jalanan”. Sedangkan drama rumah tangga dengan sasaran dewasa biasanya diwarnai dengan kisah cinta segitiga, perjodohan, penderitaan, kesedihan seperti sinetron berjudul “Orang Ketiga” dan “Catatan Hati Seorang Istri”.

Saya mengamati bahwa sinetron Indonesia memiliki pola khas, yaitu jika rating sinetron naik, maka sinetron tersebut akan diperpanjang hingga ratingnya turun. Hal ini yang membuat jalan cerita sebuah sinetron seringkali dipaksakan dan kisahnya berlarut-larut. Kita dapat melihat sendiri perubahan jadwal tayangannya di televisi. Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan dunia pertelevisian bersifat mencari keuntungan, tanpa mempertimbangkan nilai moral, kelogisan adegan, dan kreativitas.

Sisi lain, tidak dapat dimungkiri bahwa anak-anak, remaja, dan perempuan merupakan kelompok yang paling rentan terdampak pengaruh buruk tayangan sinetron, sekaligus sebagai  korban karena dianggap sebagai kelompok kelas dua (Ezeifeka, 2013). Secara khusus, perempuan ditempatkan pada posisi lemah, rentan, dan seringkali dikaitkan dengan seksualitas dalam sinetron (Chen and Machin, 2014; Antony, 2017). Seksualitas seringkali ditampilkan melalui gambar tubuh dan ekspresi perempuan (Beale and Malson, 2016). Bahkan, dalam sinetron, perempuan diposisikan sebagai pemeran utama dalam ranah domestik dan pengasuhan anak.