Misalnya, cengkeh, kemiri, kopi, pisang, dan lain sebagainya merupakan tanaman perkebunan yang paling menjanjikan bagi keberlangsungan hidup masyarakat, selain padi dan jagung sebagai makanan sumber pokok. Karena itu, seandainya tanaman perkebunan yang padanya segala keberlangsungan hidup masyarakat bergantung harus hilangkan oleh pemerintah karena hanya untuk memenuhi atau merealisasikan program, bagaimana nasib masyarakat? Bukankah hal itu hanya dapat menimbulkan masalah baru bagi pemerintah sendiri, seperti kemiskinan yang bisa berlanjut pada meningkatnya masalah-masalah baru seperti perampokan, pencurian, pelacuran, atau juga perjudian yang mungkin selama ini belum sempat dapat diminimalisir secara tuntas? Saya kira kita menyelesaikan masalah lingkungan hidup seperti ini sama saja dengan bermain dalam sebuah lingkaran setan yang tak pernah sampai pada satu pintu akhir yang membahagiakan.
Kita sendiri cenderung menyelesaikan satu masalah dengan menyulut masalah baru. Kita kadang membuat perencanaan lingkungan tanpa lebih dahulu memikirkan korban yang akan timbul. Kita juga menerima kebiasaan menyelamatkan sebuah kehidupan dengan menghancurkan kehidupan yang lain karena memang tak ada survei lapangan yang bisa dipertanggungjawabkan secara baik. Jelas bahwa dengan keadaan seperti ini kita sama sekali tak akan dapat menyembuhkan lingkungan. Sebaliknya, kitalah aktor utama dalam proses perusakan lingkungan hidup itu sendiri.
Tentu, kita mengapresiasi pemerintah yang telah menunjukkan kepedulian besar untuk menyelamatkan alam. Namun, kita sama sekali tak bisa membenarkan langkah konkret jika diambil dengan merugikan masyarakat. Jika kita membaca, mendengar, dan mengetahui sikap pemerintah demikian, maka tindakan itu sama sekali tidak menyelesaikan masalah keberlangsungan hidup itu sendiri. Lingkungan memang perlu hidup. Tetapi manusia juga butuh hidup. Dua-duanya butuh hidup. Karena itu, kita ingin menyelamatkan kehidupan yang satu maka otomatis pula kita harus bertanggung jawab menyelamatkan semua kehidupan yang lain, suka atau tak suka.







Tinggalkan Balasan