“Fauzi mengenal baik Ade Kuswandi dan Adi Kusuma, mantan atasannya di perusahaan lama. Dia melihat potensi bisnis bersama dan mulai menawarkan saham,” kata Jonner.
Menurut Jonner, Fauzi meyakinkan Ade dan Adi dengan menunjukkan prospek usaha dan sejumlah aset perusahaan. Pada 25 Oktober 2015, melalui Akta No. 126, Ade Kuswandi dan Adi Kusuma resmi membeli sebagian saham dari Fauzi dan Ahmad. Namun, kendali mayoritas masih dipegang Fauzi dan Ahmad, dengan total 55 persen saham. Sedangkan Ade dan Ade hanya 45 persen.
Dua tahun kemudian, tepatnya 25 April 2017, terjadi perubahan komposisi pemegang saham. Adi Kusuma digantikan oleh Iwan Kurniadi sebagai pihak yang mewakili kelompok saham Ade.
Ade Kuswandi menyerahkan penuh pengelolaan perusahaan kepada Fauzi sejak Oktober 2015 hingga 2023. Alasannya, Ade menetap di luar negeri, khususnya di Arab Saudi, dan tidak bisa mengawasi operasional sehari-hari.
Namun, kepercayaan itu kini berujung penyesalan. Menurut Jonner, sepanjang delapan tahun tersebut, tak pernah ada RUPS, laporan keuangan, pembagian dividen, atau bahkan kompensasi sebagai komisaris yang diberikan kepada kliennya.





Tinggalkan Balasan