Tipikal kepemimpinan transaksional mengutamakan maksimalisasi keuntungan dalam setiap keputusan atau kebijakannya. Pemimpin transaksional menggunakan konstituen karena ada sesuatu dan untuk mendapatkan sesuatu, terutama keuntungan nominal.
Sebaliknya pemimpin transformatif bergandengan erat, memotivasi, membantu, menggerakan passion masyarakat atau orang-orang yang dipimpinnya untuk menciptakan sekaligus mencapai tujuan bersama yang terbaik. Pemimpin transformatif mampu membuat kebijakan yang sulit serta berani mengambil risiko.
Ini hanya sebuah catatan ringan untuk lebih memahami dan menghayati apa arti kepemimpinan yang sesungguhnya yang sedang dilakonkan oleh Gubernur VBL bersama timnya. Karena ke depan, kepemimpinan moderen dihadapkan pada konteks dan tantangan yang lebih dinamis. Namun kinerja pemimpin tetap menjadi denyut nadi; maju-munudur, hidup-mati institusi yang dipimpinnya. Seperti kata Napoleon, a leader is a dealer in hope. Pemimpin moderen harus mampu mendorong orang-orang yang dipimpinya untuk menciptakan tujuan, memperkuat kohesi sosial, menyediakan tatanan sekaligus memobilisasi kerja kolektif secara produktif dan efektif untuk mengeluarkan masyarakat NTT dari belenggu kemiskinan termasuk kemiskinan ekstrim.





Tinggalkan Balasan