Kata-kata positif mengandung beribu makna positif seperti sebuah ungkapan syukur, penghargaan, motivasi; baik itu adalah kata-kata yang bersifat lisan maupun tertulis. Sedangkan kata-kata negatif mengandung beribu makna negatif seperti sebuah ungkapan caci-maki, penyesalan, baik bersifat lisan maupun tertulis. Pemilihan kata juga terkadang memberikan efek yang berbeda dalam kehidupan ini.
Dunia saat ini sudah terlalu sesak dipenuhi dengan aneka energi negatif yang bertebaran di sana-sini; apalagi di media sosial (FaceBook, WhatsApp, dan lain sebagai). Entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi negatif dan positif yang bertebaran di daerah ini. Ada juga pandangan yang mengatakan bahwa sembilan energi negatif akan netral dengan satu energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut. Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang yang arif nan bijak dan mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.
Ungkapan itu, tidak hanya ditujukan kepada manusia; tetapi juga kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan. Tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water yang meneliti tentang air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan membentuk kristal yang sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan kristal yang jelek. Kalau air saja bisa memberi efek seperti itu apalagi manusia ?
Karena itu, dalam kaca mata psikologi, Psikolog Muzafer Sherif dan Carl Hovland mengatakan : sepanjang orang masih mempertanyakan “apakah ada yang salah pada diri kita” tidak mungkin akan ada tenaga untuk berubah. Karena, energi kita akan terkuras habis untuk menutup mata dan membela egonya. Belum lagi individu biasanya memang sudah disibukan dengan aktivitas-aktivitas business as usual, yang sudah menjadi kebiasaan bertahun-tahun. Individu perlu masuk kesituasi the latitude of acceptance; di mana pemahaman diri atau mawas diri individu sudah mencapai titik optimal. Dengan kata lain, individu dan masyarakat atau para ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT, harus merasa ok dulu untuk berubah, baru bisa bergerak.







Tinggalkan Balasan