Setiap tinta memberi makna dan pesan yang setiap hari ditulisnya, setiap lembaran dilewati dan mulai menulis pada lembaran baru dan kali ini Maudy menuliskan kisah pilu pasca kecelakaan yang menewaskan orangtuanya dan menyebabkan dia harus mengalami kelumpuhan, Kisah pun ditulis pada setiap lembarannya

Catatan Harianku, Jakarta 12 november 1999

“Namaku Maudy umurku 17 tahun .Aku memiliki kedua orang tua yang sangat mencintaiku karena mereka selalu memberikan apapun yang aku inginkan seperti yang diimpikan oleh para remaja seusiaku, yah …, tentunya kebahagiaan, karena aku selalu dimanjakan oleh fasilitas mewah yang diberikan oleh orang tuaku. Bahkan aku disekolahkan di salah satu sekolah favorit yang ada di Jakarta yang tentunya sekolah tersebut dipenuhi oleh para siswa dan siswi yang bukan hanya berprestasi, tetapi juga anak-anak dari kalangan kelas atas dengan ekonomi orang tua mereka yang fantastis .

Tentu saja semua itu aku dapatkan karena orang tua ku yang bekerja di sebuah perusahaan yang terbaik di Jakarta, semuanya itu aku dapatkan dengan mudah karena aku terlahir dari keluarga yang bagiku sangatlah sempurna bahkan aku adalah anak tunggal didalam keluarga kami. Akan tetapi secara perlahan sesuatu yang berharga seolah-olah terenggut dari ku, Ayah dan ibu ku yang biasanya selalu menyempatkan waktu untuk bersamaku kini lebih memprioritaskan pekerjaan daripada menyediakan waktu mereka untuk bersamaku.

Bahkan aku selalu menyendiri setiap kali ayah dan ibuku bertengkar hanya karena masalah sepele atau karena masalah perusahaan yang yang tidak mampu ditangani lagi , aku selalu mengurungkan diriku dan mengunci pintu dikamar.

Sesekali aku menatap ke cermin dan berkata di dalam hati kecilku ”Tuhan Aku muak dengan sandiwara ini, aku benci dengan semua yang saat ini terjadi dalam hidupku dan merasa bahwa semua yang saat ini ku miliki adalah percuma Karena aku memiliki segalanya tapi bukan tentang kedamaian hati dan keharmonisan yang aku rasakan “.

Pertengkaran hebat antara kedua orang tua ku menyebabkan keharmonisan di dalam keluarga kami tidak lagi ku rasakan. Ayah dan ibu yang biasanya selalu menghabiskan waktu di rumah bersamaku , kini semua itu hanya angan yang aku rindukan, setiap kali ibu mengajakku bercengkrama dan bercerita sambil menikmati secangkir teh bersama ayah di ruang keluarga, setiap kali aku membayangkan tentang itu, air mataku selalu menetes dan segalanya ku tulis didalam buku harian ku karena setiap kali aku menulis aku merasakan kelegahan karena aku dapat menuangkan segala perasaan didalam buku harian ku.