Keberhasilan seorang politisi bukan sekedar “mengisi lowongan” atau kuota bukan sekedar berebut kekuasaan politik. Jika demikian maka sebenarnya pemimpin itu sendiri sedang membuat kropos kuota 30 porsen dan lebih dari itu menunjukan bahwa kualitas dirinya yang dibangun di atas dasar yang kokoh merupakan tindakan konkrit untuk menrima potensi diri dan serentak mengakui kesamaan martabat dalam berbagai aspek kehidupan baik laki-laki maupun perempuan harus terus dibangun dalam kesdaran yang penuh bahwa di balik suatu jabatan atau tanggung jawa, ada kehormatan yang harus dijaga. Masyarakat yang adil dan sejehtera adalah satu-satunya tumpuan perjuangan.
Integritas Politisi belum menjadi pemimpin yang bermartabat, kalau tatanan hidup bersama jika kehilangan roh kemanusiaan. Bahwa sesungguhnya kebenaran, keadilan, rasionalitas dan iman tidak boleh mengabaikan “cita rasa kemanusiaan dan “simpati”.
Perjuangan integritas pemimpin harus bermuara pada politik “martabat”. Tujuan ahkir pemimpin harus bermuara pada pengolahan imajinasi dan cita rasa kemanusiaan demi kebaikan bersama.*





Tinggalkan Balasan