Seorang politisi yang berintegritas adalah seseorang yang sungguh merakyat, memahami pikiran dan perasaan rakyat. Kepekaan hati dan budi sangat penting dan menjadi syarat bahwa seorang politisi dapat dipercayai oleh masyarakat. Maksudnya, pola hidupnya tidak demikian mencolok atau “kaya mendadak” sehingga menimbulkan kecurigaan bagi rakyat. Selain itu, secara sangat sederhana dapat dikatakan bahwa seseorang yang berkualitas adalah seseorang yang memiliki kompetisi, berkomitmen, melaksanakan perannya dan hidup sebagai wakil rakyat. Seseorang politisi haruslah bersih dari korupsi, jujur, tegas dan memiliki semangat visioner untuk membawa masyarakatnya ke arah hidup yang lebih baik. Hal ini mendapat tekanan khusus dalam surat gembala KWI 2014 tentang kriteria calon legislatif. (Bdk. Surat Gembala KWI, Jadilah Pemimpn Yang Cerdas dengan Berpegang Pada Hati Nurani, tahun 2014).

Militansi Politisi Pemimpin

Keterlibatan pemimpin dalam dunia politik semakin mencuat. Pemimpin sudah diberi tawaran dan peluang untuk menduduki kursi jabatan publik. Merujuk pada peluang kiprah pemimpin dalam dunia politik maka saya sedikit memberi catatan bagi para pemimpin. Pada prinsipnya, dunia politik menjadi berkualitas karena para politisis memiliki kualitas diri. Seperangkat hukum dan peratuan perundangan dalam dunia politik hanyalah sebuah instrumen lembaga politik.

Pertama, seorang politisi mestilah pribadi yang memiliki kualitas intelektual yang baik agar dapat membaca permasalahan dan potensi yang ada untuk mengatasi masalah. Kualitas intelektual pemimpin bukan pertama-tama soal ijazah, melainkan kesanggupan untuk menggunakan pikiran untuk berpikir logis.

Kedua, seorang politisi adalah pribadi yang matang secara emosional. Artinya sanggup mempertanggung jawabkan dan menanggapi segala kritik sebagai perlawanan terhadap dirinya. Karena menjadi politisi adalah figur publik.

Ketiga, seorang politisi yang baik perlu membina keimanan dan ketaqwaannya kepada Tuhan. Dia tahu bahwa tugas menjadi politisi adalah tugas yang dikehendaki Tuhan. Hidup spiritualnya bukan terletak pada sejumlah kehadiran dalam kegiatan ritual keagamaan tetapi lebih pada penghayatan konkrit imannya. Ketidakseimbangan hidup iman dan tugasnya adalah bentuk penghinaan terhadap Tuhan.