Contoh praktisnya adalah alasan manusia menaaati nilai moral jika ketaatan itu harus dibayar dengan hidup. Untuk apa mengorbankan nyawa, misalnya, menentang sebuah rezim totaliter demi memperjuangkan hak-hak sesamanya yang tertindas tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat semata-mata. Dibutuhkan suatu yang transenden dan keteguhan iman melampaui kefanaan dunia ini. Dan pijakan itu hanya mungkin ditemukan dalam agama-agama. Atau contoh lain, bagaimana kaum ateis menjelaskan persoalan moral publik kontemporer seperti aborsi, euthanasia dan kloning? Kalau hanya berpijak pada rasio saja, moral ateis tidak mampu membendung maksud pasien yang mengakhiri hidup lebih awal lantaran penderitaan tak tertahan. Atau mengapa secara etis aborsi harus dilarang jika bayi di dalam kandungan merupakan buah dari pemerkosaan?

Berdasarkan uraian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa memang beragama tidak menjamin orang untuk bermoral karena agama kerap menjadi rahim yang melahirkan ketidakadilan, tetapi agama tetap menjadi sumber tindakan moral. Agama mampu menyusui moral agar bertumbuh dalam kebajikan. Melampaui sumber moralitas, agama berperan dalam menata kehidupan budaya. Agama membantu manusia menyelesaikan situasi batas atau mengolah pengalaman sebagai mahluk yang kontingens. Nikhlas Luhman berpendapat, peran agama ialah mentematisasi hubungan antara yang imanen dan transenden atau dalam ungkapan sederhana melipat jarak antara Allah yang akbar dan Allah yang akrab.