Para politisi seperti Noel di musim kampanye kerap berteriak sampai mulut berbusa untuk memberantas praktek korupsi dan kemiskinan, namun sesudah duduk di kursi empuk kekuasaan dia sibuk mensejahterakan diri dan kelompoknya daripada memberantas kemiskinan yang setiap hari kian mencekik kehidupan rakyat. Pada titik ini, benar apa yang ditulis oleh novelis asal Brasil, Paulo Coelho, “Ketika seorang politisi mengatakan bahwa ia akan mengakhiri kemiskinan, ia merujuk pada kemiskinannya sendiri.” Yang dimaksud dengan mengakhiri kemiskinan di sini merujuk kepada keluarganya, kelompoknya, atau kroni-kroninya bukan masyarakat.
Pertanyaannya, bila bangsa ini terus diurus oleh oknum pejabat bermental koruptif dan etos hidup imoral, kapan praktek korupsi itu bisa punah dari bumi Indonesia? Kapan pula keadilan sosial bisa terwujud sebagaimana yang diamantkan oleh Pancasila dan UUD 45? Pemerintahan Prabowo-Gibran telah membulatkan tekad untuk memberantas praktik korupsi. Namun, masalah korupsi tidak bisa dihapus hanya dengan “omon-omon” dengan polesan retorika kosong dan hukum masih dijalankan dengan tebang pilih.



Tinggalkan Balasan