Kasus Noel bukan sekadar aib personal, melainkan tamparan keras bagi pemerintahan Prabowo-Gibran. Ini menunjukkan betapa rapuhnya pembinaan internal, rendahnya kepatuhan terhadap titah presiden, sekaligus lemahnya penghayatan terhadap nilai Pancasila dan UUD 1945 oleh pejabat publik. Padahal Noel pernah berpartisipasi dalam program retret di Magelang. Retret dalam pengertian religius memiliki tujuan untuk membersihkan diri seseorang dari kenajisan duniawi dan membaharui diri agar menjadi manusia baru yang bersih, matang dan berintegritas.
Pemerintah menggelontorkan miliaran rupiah dalam program retret Akmil Magelang dengan tujuan untuk membersihkan diri para anak buahnya dari segala noda dunia dan menanamkan spiritualias Pancasila dan UUD 45 dalam diri setiap pembantu Presiden agar kapal kabinet Merah Putih tidak tersandung kasus-kasus moral di perjalanan.
Namun, buah retret itu tidak nampak pada diri mantan aktivis 98 itu yang antikorupsi dan getol berucap untuk menghukum mati para koruptor. Ironisnya, Noel justru tergoda dan jatuh dalam perangkap rayuan iblis untuk berbuat jahat. Karl Marx pernah menulis bahwa untuk mencapai tujuan dalam politik, orang mesti bergaul dengan setan, namun orang harus memiliki kepastian bahwa dia menipu setan, bukan sebaliknya. Noel, aktivis yang turut andil dalam meruntuhkan tembok rezim Orde Baru yang korup itu tidak memiliki kapasitas secuil pun untuk menipu setan-setan berdasi agar menjadi malaikat, malah sebaliknya.



Tinggalkan Balasan