Noel diam-diam membangkan terhadap titah-titah Prabowo dan membuang segala pembekalan moral di Akmil Magelang ke dalam tong sampah. Sang wakil menteri itu membelot ke dalam dunia para badut berdasi yang tamak dalam panggung gelap dunia kekuasaan untuk mengumpulkan harta duniawi. Kasus ini tentu mencoreng nama baik kabinet Merah Putih, sekaligus memberi kado pahit untuk sang Presiden di hari ulang tahun Republik Indonesia ke-80. Ironisnya, Noel yang dulu lantang menggemakan hukuman mati bagi koruptor justru kecanduan opium korupsi.

Gaya Noel bermain di lahan basah korupsi mirip para preman di Tanah Abang, yaitu pemerasan. Tak mau membuang-buang waktu, baru dua bulan mendapat kue kekuasaan Noel langsung tancap gas, memanfaatkan jabatannya untuk memeras korporasi untuk memperkaya diri. Noel dan rekan-rekannya tak ubahnya preman yang sedang mengendalikan sebuah kementerian yang mengurus nasib para tenaga kerja. Lebih memilukan, praktik pemerasan di Kementerian Ketenagakerjaan dilakukan secara sistemik dan berulang kali.