Dengan pola pemerasan seperti ini, Noel dan teman-temannya tanpa sadar sedang menindas saudara sebangsanya. Fenomena ini sudah menjadi etos di Republik Indonesia dan telah merasuk ke dalam sistem pemerintahan. Pemerasan yang dilakukan oleh babu-babu negara dalam urusan administrasi ini tidak hanya terjadi di pusat-pusat kekuasaan belaka, namun marak terjadi di pusat-pusat pemerintahan daerah pun di desa-desa.

Bagi seorang politisi atau pejabat yang tamak, logika berpikirnya sederhana: yang penting kantong penuh, perut kenyang, dan hidup foya-foya. Urusan rakyat untuk keluar dari jerat kemiskinan bukanlah prioritas; misi utamanya adalah memeras siapa pun demi memperkaya diri, keluarga, dan kelompoknya. Dalam konteks ini, Plato pernah menegaskan, “Jika seseorang menambah kekayaan untuk menjamin kesejahteraan istrinya, anak-anaknya, dan sanak saudaranya, maka dengan itu ia merugikan warga negara lain.” Noel adalah contoh nyata politisi yang lebih mementingkan kepentingan pribadi ketimbang kesejahteraan rakyat kecil.

Para politisi seperti Noel di musim kampanye kerap berteriak sampai mulut berbusa untuk memberantas praktek korupsi dan kemiskinan, namun sesudah duduk di kursi empuk kekuasaan dia sibuk mensejahterakan diri dan kelompoknya daripada memberantas kemiskinan yang setiap hari kian mencekik kehidupan rakyat. Pada titik ini, benar apa yang ditulis oleh novelis asal Brasil, Paulo Coelho, “Ketika seorang politisi mengatakan bahwa ia akan mengakhiri kemiskinan, ia merujuk pada kemiskinannya sendiri.” Yang dimaksud dengan mengakhiri kemiskinan di sini merujuk kepada keluarganya, kelompoknya, atau kroni-kroninya bukan masyarakat.

Pertanyaannya, bila bangsa ini terus diurus oleh oknum pejabat bermental koruptif dan etos hidup imoral, kapan praktek korupsi itu bisa punah dari bumi Indonesia? Kapan pula keadilan sosial bisa terwujud sebagaimana yang diamantkan oleh Pancasila dan UUD 45? Pemerintahan Prabowo-Gibran telah membulatkan tekad untuk memberantas praktik korupsi. Namun, masalah korupsi tidak bisa dihapus hanya dengan “omon-omon” dengan polesan retorika kosong dan hukum masih dijalankan dengan tebang pilih.