Beberapa kota di NTT dapat direkomendasikan dan menjadi pilihan memenuhi harapan Wheeler, Hahlweg, Timmer dan Nola-Kate, serta Evans. Di Lembata ada Lewoleba. Di Alor ada Kalabahi. Di Flores ada Larantuka, Maumere, Ende, Mbay, Bajawa, Borong, Ruteng, dan Labuan Bajo. Di Timor ada Atambua, Oelamasi, Kupang, Betun, Soe, dan Kefamenanu. Di Rote Ndao ada Ba’a. Di Sabu Raijua ada Menia. Di Sumba ada Waikabubak, Waibakul, Tambolaka, dan Waingapu.
Kota-kota tersebut secara kasat mata sudah dan sedang dipredikatkan sebagai kota “layak huni” karena memiliki karakter tersirat dari masyarakatnya. Misalnya, Kupang sebagai Kota Kasih dan Kota Karang (City of Coral), Larantuka sebagai Kota Reinha, Maumere sebagai Kota Nian Tanah Sikka juga sebagai Kota Tahun Maria; Ende sebagai Kota Pancasila; Bajawa sebagai Kota Dingin; Rote Ndao sebagai Kota Nusa Lontar; Ruteng sebagai Kota Seribu Gereja; Mbay sebagai Kota Sepeda Flores; Borong sebagai Kota Jembatan atau Kota Transit; Waingapu sebagai Kota Sandalwood; Labuan Bajo sebagai Kota ‘Sepotong Surga yang Jatuh ke Bumi’, juga sebagai Seribu Sunset; Soe sebagai Kota The Freezing City atau Kota Membeku; Atambua sebagai Kota Bersih, Indah dan Nyaman (Beriman), juga sebagai sebagai Kota Perbatasan; Kefamenanu sebagai “Kota Pendidikan Kedua”; dan masih banyak julukan yang disematkan, baik secara individu maupun kolektif.



Tinggalkan Balasan