Dunia ini mau aman atau kacau berantakan itu tergantung kepada tuhan-tuhan dunia (para pemimpin) yang suka buat keputusan-keputusan aneh. Namun, tentu saja umat manusia tidak menginginkan lagi tragedi pilu masa lalu Perang Dunia I dan II terulang pada abad 21 ini.
Senandainya akan pecah Perang Dunia III, maka ini bukan saja sebuah dekadensi moral, melainkan juga sebuah kemerosotan peradaban di tengah umat manusia sudah sedang berada di atas puncak menara sains dan teknologi mutakhir.
Ini menunjukkan bahwa ketika manusia semakin pintar atau beradab dan telah memeliki segala kekuatan teknologi tercanggih di tangannya hastratnya untuk membunuh jauh lebih dahsyat dan destruktif.
Menyaksikan permainan perang yang sudah sedang terjadi di Ukraina saat ini, kita teringat kondisi alamiah dalam filsafat politik Thomas Hobbes (1588-1679). Kondisi alamiah ini bisa diringkas sebagai berikut. Dalam kadaan alamiah manusia hidup setara, bebas, hidup dalam persaingan, saling mencurigai dan bermusuhan. Setiap orang bisa mengklaim apa pun untuk kepentingan dirinya. Akibatnya, manusia menjadi seperti singa bagi yang lain (homo homini lupus). Manusia menggunakan kekerasan untuk saling menaklukkan satu dengan yang lain. Siapa yang kuat ia akan menjadi tuan atas yang lain dan dengan bebas bisa merampas apa saja yang diinginkannya. Karena itu, terciptalah permusuhan di antara manusia dan perang semua melawan semua (bellum omnium contra omnes). Konsekuensi terburuk dari semuanya itu ialah manusia hidup menyendiri dalam ketakutan, mati dalam keadaan yang kejam, miskin, jahat dan brutal (Thomas Hobbes, 1873: 95-97).
Adalah kurang pas kalau menyamakan secara mutlak kondisi alamiah Hobbes dengan kondisi hidup manusia di abad 21 ini. Namun demikian, satu hal yang agak mirip dengan kondisi alamiah ala Hobbes pada abad 21 ini ialah problem persaingan dan kondisi bellum omnium contra omnes yang sudah sedang terjadi akhir-akhir ini terutama dalam konteks perang di Ukraina.
Moskow menginvasi Ukraina, sementara itu, Barat dan beberapa negara Asia seperti Jepang, Singapura dan Korea Selatan kompak membabat Rusia melalui sanksi ekonomi, pelarangan total bagi kaum olahragawan Rusia untuk tampil di seluruh ajang internasional.







Tinggalkan Balasan